Bukunya Disensor, John Bolton Isyaratkan Bongkar Skandal Trump

Penasihat Keamanan Nasional John Bolton mendengarkan ketika Presiden AS Donald Trump mengadakan rapat kabinet di Gedung Putih di Washington, AS, 9 April 2018. [REUTERS / Kevin Lamarque]

TEMPO.CO, Jakarta - Mantan penasihat keamanan nasional AS, John Bolton, mengisyaratkan membongkar keterlibatan Donald Trump dalam skandal Ukraina karena bukunya disensor Gedung Putih.

Dalam penampilan publik pertamanya sejak sidang pemakzulan Senat di mana Partai Republik menolak untuk mendengarkan kesaksiannya, Bolton mengatakan bahwa Gedung Putih berusaha mencegahnya menerbitkan bagian-bagian penting dari memoar barunya berjudul "The Room Where It Happened: A White House Memoir", dengan mengatakan buku tersebut berisi informasi rahasia yang mengancam keamanan nasional.

Dia mengatakan ingin mengajukan banding kembali tetapi takut bahwa tinjauan pra-publikasi dapat menghentikan bukunya diterbitkan bulan depan.

"Untuk semua fokus pada Ukraina dan persidangan pemakzulan dan semua itu, bagi saya, ada bagian dari naskah yang berhubungan dengan Ukraina, saya melihat bahwa seperti taburan pada es krim sundae dalam hal apa yang ada dalam buku ini," kata Bolton mengatakan kepada hadirin di Duke University selama forum kebijakan luar negeri pada Senin malam, menurut laporan New York Times, 18 Februari 2020.

"Ini adalah upaya untuk menulis sejarah dan saya melakukan yang terbaik yang saya bisa. Kita harus melihat apa yang keluar dari sensor. Saya berharap pada akhirnya saya bisa menerbitkan buku itu," kata Bolton. "Saya harap itu tidak ditekan."
Menanggapi serangan Trump di Twitter, Bolton mengatakan: "Dia tweet, tapi saya tidak bisa membicarakannya. Seberapa adil itu?"

Bolton menolak untuk membahas perincian masalah Ukraina yang menyebabkan pemakzulan Trump, dan dia tidak menawarkan pendapat tentang hasil persidangan yang membebaskan presiden. Bolton malah menawarkan jawaban yang samar, menyebut jawaban itu akan keluar dalam bukunya jika ia diizinkan untuk menerbitkannya.

Ditanya oleh seorang siswa di antara hadirin apakah menurutnya panggilan telepon Trump pada 25 Juli menekan Presiden Volodymyr Zelensky dari Ukraina untuk menyelidiki Demokrat adalah "sempurna", seperti yang dikatakan oleh Trump. Bolton tersenyum. "Kamu akan menyukai Bab 14," katanya.

Transkrip percakapan telepon Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy. Sumber: reuters.com

Keengganannya untuk berbicara secara lebih eksplisit telah membuat frustasi Demokrat selama berbulan-bulan, yang mengatakan bahwa ia hanya bisa mengatakan apa yang ia ketahui tanpa menunggu panggilan pengadilan atau izin Gedung Putih.

Memang, selama audiensi Duke University, hadirin bertepuk tangan dua kali atas saran bahwa dia seharusnya bersaksi di DPR atau sekadar memberikan konferensi pers untuk menceritakan apa yang dia ketahui.

"Dia memiliki setiap kesempatan untuk secara sukarela maju," kata Denny Heck, DPR Demokrat dari Washington dan anggota Komite Intelijen DOR, dikutip dari CNN tak lama setelah penampilan Bolton di Duke University. "Dia menolak meskipun banyak yang melakukannya. Apa yang John Bolton tertarik, terus terang, adalah menjual sebanyak mungkin salinan bukunya, titik."

Dikutip dari CNN, Bolton menolak membenarkan semua detail yang ditawarkan oleh saksi dalam penyelidikan pemakzulan atau membocorkan detail lainnya.

"Saya mengatakan hal-hal dalam naskah tentang apa yang dia (Trump) katakan kepada saya," tambahnya. "Saya berharap mereka menjadi publik suatu hari nanti."

Bolton, yang meninggalkan jabatannya di bawah tekanan September lalu, adalah tokoh kunci dalam skandal Ukraina, menurut saksi mata selama penyelidikan DPR. Rekan pejabat bersaksi bahwa Bolton keberatan dengan penangguhan bantuan keamanan ke Ukraina dan kampanye tekanan untuk membuat Ukraina membantu menyelidiki saingan Demokrat Trump, menyebutnya sebagai "kesepakatan narkoba" dan memperingatkan bahwa Rudolph W. Giuliani, pengacara pribadi presiden, adalah "granat tangan yang akan meledakkan semua orang."

Dalam naskah buku yang pertama kali dibocorkan New York Times, menurut orang-orang yang akrab dengan naskah itu, Bolton menulis bahwa Trump mengatakan kepadanya pada Agustus bahwa ia tidak ingin memberikan US$ 391 juta atau Rp 5,3 triliun bantuan keamanan yang disetujui kongres untuk Ukraina yang akan digunakan melawan agresi Rusia. Para pemimpin sepakat untuk mengumumkan penyelidikan terhadap mantan Wakil Presiden Joseph R. Biden Jr dan Demokrat lainnya.

John Bolton tidak setuju untuk bersaksi selama penyelidikan DPR dan Demokrat memilih untuk tidak memanggilnya, karena takut akan terjadi perselisihan di pengadilan. Tetapi dia menawarkan diri untuk bersaksi di persidangan pemakzulan Senat jika dipanggil, namun Partai Republik memutuskan untuk tidak memanggilnya sebagai saksi bahkan setelah laporan tentang bukunya diterbitkan.

Trump membantah pengakuan John Bolton, tetapi pengacara Gedung Putih mengatakan itu tidak masalah bahkan jika kesaksian yang ia beberkan benar karena tidak akan melanggar prosedur pemecatannya.

Sementara Gedung Putih telah menegaskan bahwa buku "The Room Where It Happened: A White House Memoir" berisi informasi rahasia yang harus disensor sebelum dapat diterbitkan. Pengacara John Bolton membantah dan mengatakan bahwa buku itu harus dirilis sesuai jadwal pada 17 Maret.






Atasi Harga Energi, Jerman Sahkan Paket Kebijakan Rp2,9 Ribu Triliun

10 jam lalu

Atasi Harga Energi, Jerman Sahkan Paket Kebijakan Rp2,9 Ribu Triliun

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengesahkan paket kebijakan sebesar 200 miliar euro atau sekitar Rp2,9 kuadriliun untuk melindungi industri dan rumah tangga dari dampak kenaikan harga energi.


PBB: Aneksasi Rusia terhadap Wilayah Ukraina Pantas Dikutuk

13 jam lalu

PBB: Aneksasi Rusia terhadap Wilayah Ukraina Pantas Dikutuk

Menurut Sekjen PBB Antonio Guterres, referendum dilakukan di bawah pendudukan Rusia dan di luar kerangka hukum dan konstitusional Ukraina.


Rudal Rusia Serang Konvoi Mobil Warga Sipil Ukraina, 23 Tewas

13 jam lalu

Rudal Rusia Serang Konvoi Mobil Warga Sipil Ukraina, 23 Tewas

Sedikitnya 23 orang tewas dan 28 lainnya terluka dalam serangan rudal Rusia yang menghantam konvoi kendaraan sipil di kota Zaporizhzhia, Ukraina


Putin Caplok Ukraina, Zelensky Yakin Masih Bisa Dihentikan

14 jam lalu

Putin Caplok Ukraina, Zelensky Yakin Masih Bisa Dihentikan

Zelensky mengatakan, langkah Putin menganeksasi empat wilayah Ukraina harus dihentikan.


Rusia Tuding Nord Stream Bocor Akibat Terorisme Negara

17 jam lalu

Rusia Tuding Nord Stream Bocor Akibat Terorisme Negara

Pejabat Uni Eropa mengatakan bocornya pipa Nord Stream akan mengubah sifat perang Rusia Ukraina.


Sah, Putin Terbitkan Dekrit Dua Wilayah Ukraina Resmi Gabung Rusia

18 jam lalu

Sah, Putin Terbitkan Dekrit Dua Wilayah Ukraina Resmi Gabung Rusia

Putin menerbitkan dekrit dua wilayah Ukraina resmi bergabung dengan Rusia setelah referendum di 4 wilayah.


Pertemuan Menteri Pertanian G20, FAO: Harga Makanan dan Pupuk Naik Jadi Pendorong Krisis Pangan

19 jam lalu

Pertemuan Menteri Pertanian G20, FAO: Harga Makanan dan Pupuk Naik Jadi Pendorong Krisis Pangan

Pada Pertemuan Menteri Pertanian G20, Dirjen FAO memperingatkan implikasi berbahaya krisis pangan dari melonjaknya harga makanan dan pupuk.


Rusia Aneksasi Wilayah Ukraina, Putin Pimpin Upacara Pengesahan Hari Ini

22 jam lalu

Rusia Aneksasi Wilayah Ukraina, Putin Pimpin Upacara Pengesahan Hari Ini

Putin akan memimpin upacara di Kremlin untuk mendeklarasikan empat wilayah Ukraina sebagai bagian dari Rusia.


Putin Diprediksi Segera Umumkan Aneksasi Empat Wilayah Ukraina

1 hari lalu

Putin Diprediksi Segera Umumkan Aneksasi Empat Wilayah Ukraina

Putin diperkirakan segera mengumumkan pencaplokan 4 wilayah Ukraina. Poster bertuliskan Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, Kherson terbentang di Rusia.


Apple Hapus Facebook-nya Rusia dari App Store, Pasang Kembali Smart Voting?

1 hari lalu

Apple Hapus Facebook-nya Rusia dari App Store, Pasang Kembali Smart Voting?

Apple melanjutkan kebijakannya atas Rusia pascaperang yang terjadi di Ukraina.