Kekang Virus Corona, Provinsi Hubei Larang Lalu-lintas Kendaraan

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengoperasikan kendaraan untuk menyemprtokan cairan desinfektan setelah meluasnya wabah virus corona baru di Wuhan, provinsi Hubei, China 10 Februari 2020. Korban meninggal akibat terinfeksi virus corona baru tercatat mencapai 1,013 orang. China Daily via REUTERS

    Pekerja mengoperasikan kendaraan untuk menyemprtokan cairan desinfektan setelah meluasnya wabah virus corona baru di Wuhan, provinsi Hubei, China 10 Februari 2020. Korban meninggal akibat terinfeksi virus corona baru tercatat mencapai 1,013 orang. China Daily via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Provinsi Hubei, pusat wabah virus Corona di Cina, mengumumkan pada Ahad akan melarang lalu lintas kendaraan dan membatasi orang keluar rumah di seluruh provinsi untuk mengekang penyebaran virus.

    Dikutip dari Reuters, 17 Februari 2020, dalam dokumen yang diterbitkan dikatakan mobil polisi, ambulans, kendaraan yang membawa barang-barang penting, atau kendaraan lain yang terkait dengan layanan publik akan dikecualikan dari larangan.

    Pengumuman juga mengatakan provinsi akan melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur pada semua penduduk di provinsi tersebut. Disebutkan juga bahwa perusahaan tidak dapat melanjutkan pekerjaan tanpa terlebih dahulu mendapat izin dari pemerintah.

    Provinsi Hubei juga memerintahkan penduduk provinsi, termasuk 24 juta orang di daerah pedesaan, untuk tinggal di rumah sampai pemberitahuan lebih lanjut, menurut South China Morning Post.

    Perintah itu datang ketika jumlah korban jiwa dari wabah itu mendekati 1.700, termasuk laporan kematian pertama di Eropa dan Taiwan pada akhir pekan.

    Tetapi pemerintah pusat mengatakan pada Ahad bahwa jumlah kasus baru penyakit ini, sekarang dikenal sebagai COVID-19, turun untuk hari ketiga berturut-turut pada Sabtu.

    Seorang pria berusia 60 tahun yang menderita penyakit kronis meninggal karena komplikasi pneumonia dan septikemia pada hari Sabtu, menjadi kematian pertama Taiwan akibat virus Corona, kata Menteri Kesehatan Taiwan Chen Shih-chung.

    Terowongan Sungai Yangtze Wuhan yang diblokir menyusul merebaknya virus corona di Wuhan, provinsi Hubei, Cina 25 Januari 2020. China Daily via REUTERS

    Virus Corona pertama kali dilaporkan pada bulan Desember di kota Wuhan di Hubei, dan telah menginfeksi sekitar 70.000 orang dan sangat mengganggu perekonomian Cina.

    Hubei, provinsi dengan 58 juta penduduk, merupakan lebih dari 80 persen dari kasus yang dikonfirmasi dan 96 persen dari kematian di Cina. Pada hari Sabtu, Hubei melaporkan 1.843 kasus baru dari jumlah nasional sebanyak 2.009 dan 139 dari 142 kematian baru di seluruh negeri.

    Pemerintah pusat telah mengidentifikasi Hubei sebagai medan pertempuran utama dalam perang melawan epidemi, dengan pihak berwenang menerapkan kontrol sosial ketat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Di bawah aturan baru yang diperkenalkan pada hari Minggu, masing-masing dari 200.000 atau lebih komunitas pedesaan provinsi akan ditutup dengan hanya satu pintu masuk yang dijaga. Pembatasan serupa akan berlaku untuk perumahan perkotaan.

    "Pada prinsipnya, setiap penduduk desa harus tinggal di rumah. Jika dia benar-benar perlu keluar, dia harus memakai masker dan menjaga jarak minimal 1,5 meter dari orang lain," kata peraturan itu. "Semua tempat rekreasi dan hiburan harus ditutup dan semua kegiatan kelompok akan ditangguhkan. Pernikahan harus ditunda, dan proses pemakaman diminimalkan...Mengunjungi rumah tangga lain sangat dilarang, seperti halnya bermain mahjong dan permainan kartu."

    Tindakan itu dilakukan tiga minggu setelah Cina mengejutkan dunia dengan mengumumkan penutupan di Wuhan. Kontrol ketat kemudian diberlakukan di kota-kota lain.

    Tetapi sekarang pemerintah pusat berusaha untuk menyeimbangkan kebutuhan untuk mengatasi wabah dengan kebutuhan untuk mengembalikan kehidupan normal di tempat-tempat di mana situasi dapat dikendalikan.

    Banyak bagian lain Cina yang melonggarkan pengendalian wabah saat mereka menjawab panggilan Presiden Xi Jinping untuk menghidupkan kembali produksi yang terhenti karena wabah virus Corona.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.