Amerika Prediksi Epidemi Virus Corona Berlangsung Sepanjang 2020

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja medis menggunakan pakaian pelindung saat berada di bangsal terisolasi pasien virus corona di sebuah rumah sakit di distrik Caidian, Wuhan, provinsi Hubei, Cina 6 Februari 2020. Sebagian besar korban meninggal akibat virus corona berasal dari Cina. China Daily via REUTERS

    Pekerja medis menggunakan pakaian pelindung saat berada di bangsal terisolasi pasien virus corona di sebuah rumah sakit di distrik Caidian, Wuhan, provinsi Hubei, Cina 6 Februari 2020. Sebagian besar korban meninggal akibat virus corona berasal dari Cina. China Daily via REUTERS

    TEMPO.CO, Amerika - Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), Robert Redfield, pesimistis epidemi virus Corona akan berakhir tahun ini. Melihat perkembangan yang ada, menurut ia, tidak mustahil epidemi virus Corona akan berlangsung sepanjang tahun 2020 atau bahkan lebih.

    "Virus ini kemungkinan akan bersama kita sepanjang musim, sepanjang tahun, atau bahkan lebih. Saya rasa akan tiba waktu di mana virus ini menetap dan kita mendapati kasus virus ditularkan dari satu komunitas ke komunitas yang lain," ujar Redfield sebagaimana dikutip dari CNN, Jumat, 14 Februari 2020.

    Redfield menjelaskan, epidemi virus Corona bisa berlangsung sepanjang tahun karena masih minimnya pengetahuan atas virus tersebut. Di sisi lain, kata ia, pemerintah Cina tak sepenuhnya terbuka untuk membagi data mereka soal penyebaran virus Corona. Salah satu contohnya adalah masih tidak diperbolehkannya CDC Amerika berkunjung ke pusat penyebaran virus Corona.

    Hingga berita ini ditulis, kurang lebih sudah enam pekan permohonan Amerika untuk mengirim tim CDC didiamkan oleh pemerintah Cina. Di sisi lain, pemerintah Cina menuduh Amerika telah membuat kehebohan global dengan menerapkan travel ban untuk rute penerbangan dari dan menuju Cina.

    "Ada banyak sekali informasi virus Corona yang belum diketahui. Itulah kenapa kami menawarkan bantuan pada tanggal 6 Januari lalu untuk membantu pemerintah Cina memgumpulkan informasi yang dibutuhkan," ujar Redfield.

    Karena Cina tidak terbuka, kata Redfield, dirinya mengandalkan kolega-kolega yang kebetulan berada di Cina. Dari sana didapat berbagai informasi, termasuk temuan bahwa mereka yang tertular virus Corona tidak selalu berujung sakit. Malah, mereka yang tidak sakit itu pun, kata Redfield, masih bisa menularkan virus Corona. Itu lah kenapa pola penyebaran virus Corona sulit ditebak. 

    "Apa yang kami temukan dua pekan terakhir adalah gejala penyakit akibat virus Corona lebih luas dari yang kami duga. Beberapa kasus sama sekali tidak menunjukkan simptom virus Corona yang umum. Beberapa pasien yang kami periksa hanya mengalami tenggorokan gatal," ujar Redfield.

    Terlepas dari segala kesulitan yang dihadapi, Redfield menegaskan bahwa CDC melakukan segala hal yang mereka bisa dalam menangani virus Corona. Untuk saat ini, dengan pengetahuan yang terbatas, Ia berkata bahwa CDC hanya bisa memperlamban proses penyebaran, tidak bisa mencegah sepenuhnya.

    Saat ini, total sudah ada 64.434 kasus virus Corona di seluruh dunia. Sebanyak 15 di antaranya berada di Amerika yang tersebar di delapan negara bagian. Adapun jumlah pasien meninggal di seluruh dunia adalah 1383 diikuti jumlah pasien sembuh sebanyak 6766.

    ISTMAN MP | CNN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.