Permintaan Minyak Dunia Menurun karena Virus Corona

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas pekerja di pabrik pabrik Joint Venture Honda Motor - Dongfeng Motor Group di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, 12 April 2019. REUTERS/Norihiko Shirouzu

    Aktivitas pekerja di pabrik pabrik Joint Venture Honda Motor - Dongfeng Motor Group di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, 12 April 2019. REUTERS/Norihiko Shirouzu

    TEMPO.CO, Jakarta - Jumlah permintaan minyak yang dibutuhkan untuk menjalankan ekonomi global akan menurun tajam pada kuartal pertama tahun ini setelah virus Corona menyebabkan pabrik-pabrik di Cina tutup.

    Permintaan minyak global dalam tiga bulan pertama 2020 diperkirakan akan turun 435.000 barel per hari dibandingkan tahun sebelumnya, menurut International Energy Agency (IEA), dikutip dari CNN, 13 Februari 2020.

    Ini adalah penurunan kuartalan pertama dalam lebih dari sepuluh tahun terakhir.

    Penurunan ini disebabkan permintaan minyak yang menurun ketika manufaktur Cina terhenti akibat wabah. Fortune melaporkan, ribuan manufaktur Cina berada dalam kesulitan, menunggu untuk mendengar dari pihak berwenang setempat kapan mereka dapat melanjutkan operasi.

    Presiden Cina Xi Jinping juga memperingatkan para pejabat tinggi pekan lalu bahwa upaya mengendalikan penyebaran virus Corona Wuhan terlampau jauh dan bisa mengancam perekonomian Cina.

    Para pekerja membuat pakaian pelindung di sebuah pabrik di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, 28 Januari 2020. Xinhua/Cai Yang

    International Energy Agency juga memperkirakan penurunan pertumbuhan permintaan minyak untuk seluruh tahun 2020. Permintaan saat ini diperkirakan hanya meningkat sekitar 825.000 barel per hari, laju peningkatan tahunan terlemah sejak 2011.

    IEA mengatakan dalam laporan minyak bulanannya bahwa dampak dari virus Corona atau COVID-19 sulit diukur pada tahap ini.

    "Permulaan (virus Corona) kemungkinan akan berdampak besar pada ekonomi dunia dan permintaan minyak," kata badan negeri dunia tersebut. "Konsekuensi akan bervariasi dari waktu ke waktu, dengan pukulan ekonomi awal pada transportasi dan jasa, kemungkinan diikuti oleh industri Cina, kemudian pada akhirnya ekspor dan ekonomi yang lebih luas."

    Namun, IEA ragu virus Corona akan memiliki dampak yang lebih besar pada permintaan minyak dan ekonomi global daripada wabah sindrom pernafasan akut akut (SARS) pada tahun 2003.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.