Cina Ganti Metode Deteksi Virus Corona

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugasmedis menggunakan pakaian pelindung saat memerikan pasien virus corona baru di bangsal isolasi di sebuah rumah sakit di Wuhan, provinsi Hubei, Cina 6 Februari 2020. Sebanyak 42.500 orang terinfeksi virus corona di seluru dunia. China Daily via REUTERS

    Petugasmedis menggunakan pakaian pelindung saat memerikan pasien virus corona baru di bangsal isolasi di sebuah rumah sakit di Wuhan, provinsi Hubei, Cina 6 Februari 2020. Sebanyak 42.500 orang terinfeksi virus corona di seluru dunia. China Daily via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Cina mengganti metode diagnosis mereka untuk mendeteksi warga yang tertular virus Corona (COVID-19) atau tidak. Adapun metode diagnosis yang baru mengikutkan hasil CT (Computerised Tomography) scan dalam pertimbangan menentukan seseorang tertular virus Corona atau tidak.

    "Dengan metode baru ini, pasien bisa dideteksi dan ditangani sedini mungkin," ujar Komisi Kesehatan Nasional di Hubei sebagaimana dikutip dari Channel News Asia, Kamis, 13 Februari 2020.

    Sebelumnya, proses diagnosis warga yang tertular virus Corona menggunakan metode tes nucleic acid. Metode CT scan sempat diterapkan, namun dirasa kurang akurat betapa waktu lalu.

    Belakangan, metode tes nucleic acid dirasa terlalu lamban seiring dengan terus bertambahnya pasien virus Corona. Di sisi lain, pemahaman terhadap simptom virus Corona juga sudah meningkat lebih baik. Alhasil, pemerintah kembali menerapkan metode CT Scan yang dirasa lebih cepat.

    Untuk memastikan diagnosis berdasarkan hasil CT scan bisa berjalan konsisten, panduan sudah dibagikan ke berbagai provinsi selain Hubei. Selain itu, data pasien dan pemeriksaan sebelumnya juga sudah diperbarui untuk memastikan tidak ada yang lolos.

    "Pemahaman kami terhadap gejala pneumonia akibat virus Corona semakin mendalam, seiring dengan makin bertambahnya pengalaman dalam melakukan diagnosis dan perawatan," ujar Komisi Kesehatan Nasional dalam keterangan persnya.

    Hasil dari penggantian metode adalah lonjakan angka kasus virus Corona (COVID-19) yang meningkat pesat. Dalam sehari, kurang lebih 15 ribu kasus baru virus Corona didapatkan, menambah jumlah pasien di Cina dari 44.653 menjadi 59.493.

    Penggantian metode ini tidak serta merta langsung ditanggapi positif. Pakar politik Cina dari School of Global Policy & Strategy at UC San Diego, Victor Shih, memandang penggantian metode sebagai bukti bahwa Cina selama ini memegang dua data soal kasus Virus Corona. Shih khawatir bahwa Cina mencoba untuk tidak bersikap transparan soal fakta virus Corona.

    "Jika pemerintah tidak memegang dua data, tidak mungkina mereka bisa menambah begitu banyak pasien dalam sehari," ujar Shih.

    ISTMAN MP | CHANNEL NEWS ASIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.