Pakar Medis Berbeda Pandangan Soal Puncak Virus Corona di Dunia

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Cina Xi Jinping menginspeksi pekerjaan pencegahan dan pengendalian virus Corona di lingkungan Anhuali di Beijing, Cina, 10 Februari 2020. [Xinhua via REUTERS]

    Presiden Cina Xi Jinping menginspeksi pekerjaan pencegahan dan pengendalian virus Corona di lingkungan Anhuali di Beijing, Cina, 10 Februari 2020. [Xinhua via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Berbagai pakar medis saling berbeda pandangan perihal prediksi puncak penyebaran virus Corona. Ada yang beranggapan epidemi virus Corona akan selesai pada bulan April ini, ada juga yang menganggap prediksi tersebut terlalu prematur. Salah satu figur yang memprediksi epidemi virus Corona akan usai bulan April nanti adalah Zhong Nansham, penasihat medis pemerintah Cina.

    Nansham mengacu pada data dari Komisi Kesehatan Nasional Cina yang memang menunjukkan angka pertumbuhan kasus Virus Corona per pekan telah turun. Di luar Hubei, misalnya, telah turun 57 persen dari 890 kasus pada Senin pekan lalu menjadi 381 pada Senin kemarin. Begitu pula di Hubei yang turun dari 3000 kasus per Selasa pekan lalu menjadi 1638 pada hari Selasa kemarin.

    "Saya berharap epidemi ini akan benar-benar berakhir pada April nanti," ujar Nansham sebagaimana dikutip dari Channel News Asia, Rabu, 12 Februari 2020.

    Hal yang perlu diketahui, prediksi Nansham perihal Corona sempat salah sebelumnya. Hal itu membuat berbagai pakai pun tidak berani mengambil prediksi terlalu cepat soal kemungkinan epidemi virus Corona berakhir pada April nanti.

    Salah satu yang menyatakan prediksi Nansham terlalu prematur adalah Brendan Murphy, Kepala Departemen Kesehatan Pemerintah Australia. Menurut Murphy, terlalu cepat mengambil keputusan hanya bermodal data satu pekan. Untuk mengambil prediksi soal akhir epidemi, kata ia, dibutuhkan data yang lebih banyak.

    "Saya rasa kita harus terus memantau data-data beberapa pekan depan untuk membuat prediksi yang akurat," ujar Murphy sebagaimana dikutip dari situs ABC pada hari ini.

    Hal senada disampaikan Xian Jiaotong, peneliti dari Liverpool University. Jika data beberapa pekan ke depan konsisten menurun, kata ia, maka bisa saja epidemi virus Corona berakhir di akhir Februari. Hanya saja, kata ia, ada banyak faktor yang bisa membuat trend penurunan berubah pekan depan.

    "Kita harus mempertimbangkan kemungkinan ada data yang belum dilaporkan di mana hal itu bisa mengubah keseluruhan prediksi. Jika tidak ada perubahan trend, hitung-hitungan yang saya buat menunjukkan yang terburuk (dari epidemi virus Corona) telah usai," ujar Jiaotong.

    Sementara itu, epidemiologis dari Columbia University, W. Ian Lipkin, mengatakan bahwa prediksi akhir epidemi harus melihat proses karantina yang sudah berlangsung serta perubahan musim. Jika musim semi datang lebih awal, yang ditandai dengan kenaikan suhu, hal itu bisa mempengaruhi prediksi akhir epidemi virus Corona.

    Data terbaru, angka kasus virus Corona di seluruh dunia saat ini adalah 45.171 kasus. Jumlah korban meninggal ada 1.115 orang, diikuti dengan jumlah pasien sembuh 4.771 orang.

    ISTMAN MP | ABC | CHANNEL NEWS ASIA | SOUTH CHINA MORNING POST


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.