109 Tentara Amerika Alami Cedera Otak Akibat Serangan Rudal Iran

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara AS melihat lokasi pangkalan udara Ain al-Asad yang hancur akibat hantaman rudal Iran di provinsi Anbar, Irak, 13 Januari 2020. Garda Revolusi Iran meluncurkan puluhan rudal ke pangkalan udara Ain al-Asad di Irak pada Rabu (8/1) dini hari waktu setempat. REUTERS/John Davison

    Tentara AS melihat lokasi pangkalan udara Ain al-Asad yang hancur akibat hantaman rudal Iran di provinsi Anbar, Irak, 13 Januari 2020. Garda Revolusi Iran meluncurkan puluhan rudal ke pangkalan udara Ain al-Asad di Irak pada Rabu (8/1) dini hari waktu setempat. REUTERS/John Davison

    TEMPO.CO, Jakarta - Militer Amerika Serikat mengatakan jumlah tentara AS yang menderita cedera otak karena serangan rudal Iran di Irak bulan lalu naik menjadi 109 orang.

    Tidak ada pasukan AS yang terbunuh atau menghadapi cedera tubuh ketika Iran menembakkan rudal ke pangkalan Ain al-Asad di Irak sebagai pembalasan atas pembunuhan Jenderal Garda Revolusi Iran Jenderal Qassem Soleimani dalam serangan pesawat drone di bandara Baghdad pada 3 Januari.

    Namun, korban cedera otak yang diumumkan militer AS pada Senin melonjak 50 persen lebih dari jumlah yang diumumkan sebelumnya.

    Serangan-serangan rudal itu adalah buntut dari serangan yang dimulai pada akhir Desember. Kedua belah pihak telah menahan diri dari eskalasi militer lebih lanjut, tetapi meningkatnya jumlah korban di AS dapat meningkatkan pengawasan pada pendekatan pemerintahan Trump ke Iran.

    Dikutip dari Reuters, 11 Februari 2020, Sebelumnya dilaporkan ada lebih dari 100 kasus cedera otak, naik dari 64 yang dilaporkan sebelumnya bulan lalu.

    Pentagon, dalam sebuah pernyataan, mengkonfirmasi bahwa sejauh ini 109 anggota keamanan AS telah didiagnosis dengan cedera otak traumatis ringan, menambahkan bahwa 76 dari mereka telah kembali bertugas.

    Militer AS mengatakan sebelumnya konfirmasi jumlah korban dapat memakan waktu karena berdasarkan gejala dan pasukan kadang-kadang bisa lebih lama untuk melaporkannya.

    Jenderal Angkatan Darat Mark Milley, Kepala Staf Gabungan Militer AS, mengatakan bulan lalu bahwa personel yang menderita cedera otak traumatis telah didiagnosis dengan kasus-kasus ringan. Dia menambahkan bahwa diagnosis dapat berubah seiring waktu.

    Gejala cedera termasuk sakit kepala, pusing, sensitivitas terhadap cahaya, dan mual.

    Pejabat Pentagon telah berulang kali mengatakan mereka tidak berusaha menutupi, meminimalisir, atau menunda informasi tentang cedera otak.

    Menurut New York Times, cedera otak traumatis dapat diakibatkan oleh perubahan kuat dalam tekanan atmosfer yang menyertai ledakan, seperti hulu ledak rudal.

    Menteri Pertahanan Mark T. Esper mengatakan pada konferensi pers pada bulan Januari bahwa Pentagon menangani jenis-jenis cedera otak itu dengan sangat serius.

    Presiden AS Donald Trump tampaknya mengecilkan cedera otak pasukan AS di Irak bulan lalu, mengatakan ia mendengar bahwa mereka hanya mengalami sakit kepala dan beberapa hal lain setelah serangan rudal Iran, yang memicu kritik dari anggota parlemen dan kelompok veteran AS.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.