Virus Corona pada Trenggiling Identik dengan Virus Corona Wuhan

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menunjukkan seekor Trenggiling (Paramanis javanica) yang telah di bekukan saat akan dimusnahkan di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Juanda, Surabaya, 8 Juli 2015. FULLY HANDOKO

    Petugas menunjukkan seekor Trenggiling (Paramanis javanica) yang telah di bekukan saat akan dimusnahkan di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Juanda, Surabaya, 8 Juli 2015. FULLY HANDOKO

    TEMPO.CO, Jakarta - Studi yang dilakukan ilmuwan sipil dan militer Cina menemukan genetik virus Corona dari trenggiling 99 persen identik dengan virus Corona baru dari Wuhan.

    Sebelumnya ilmuwan telah menduga virus Corona Wuhan berasal dari Ular dan Kelelawar sejak awal kemunculannya pada Desember 2019.

    Para ilmuwan telah melacak asal-usul coronavirus 2019-nCoV pada kelelawar buah yang ditemukan di provinsi Yunnan beberapa tahun yang lalu, tetapi sekitar 4 persen gennya adalah baru. Ini menyimpulkan inang perantara virus, dan beberapa penelitian telah memberikan berbagai hewan liar yang berpotensi sebagai penyebar virus, termasuk ular.

    Dikutip dari South China Morning Post, 9 Februari 2020, tim yang dipimpin oleh Profesor Shen Yongyi di South China Agricultural University di Guangzhou, Provinsi Guangdong, menganalisis lebih dari 1.000 sampel dan menemukan bahwa 70 persen lebih trenggiling yang mereka periksa membawa virus yang berasal dari keluarga yang sama dengan infeksi yang ditemukan di Kota Wuhan, kata para ilmuwan pada hari Jumat.

    Coronavirus yang baru ini (dinamakan 2019-nCoV oleh WHO) memiliki kesamaan hingga 87% dengan rantai genetika dengan dua coronavirus yang ditemukan pada kelelawar. Namun, muasal dari 2019-nCoV belum diketahui

    Pada tingkat mikroskopis, para peneliti sipil dan rekan-rekan mereka dari Academy of Military Medical Sciences di Beijing menemukan bahwa beberapa strain virus trenggiling tampak identik dengan virus Corona baru pada manusia, dan analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa mereka memiliki 99 persen gen yang sama.

    "Trenggiling adalah inang perantara potensial, tetapi mungkin ada beberapa inang perantara," kata Shen. "Misalnya SARS, selain musang, predator kecil lainnya juga dapat menyebarkan virus."

    Hasil tim belum melalui proses penilaian sejawat (peer review) dan makalah penelitian formal tidak tersedia.

    Pasar ikan di Kota Wuhan, Cina, ditutup sementara setelah beberapa orang terinveksi virus corona di sana. Sumber: Noel Celis/Agence France-Presse — Getty Images/nytimes.com

    Dikutip dari Thepaper.cn, Liu Yahong, rektor universitas, mengatakan mereka berharap untuk membuat hasil penelitian ini dipublikasikan secepat mungkin untuk membantu pencegahan dan pengendalian epidemi secara ilmiah dan memberikan referensi bagi lebih banyak ilmuwan untuk melakukan pekerjaan lebih lanjut.

    Biasanya para ilmuwan menaruh temuan mereka di sebuah makalah untuk publikasi dalam jurnal akademik, maka peer review akan dilakukan sebelum hasilnya diumumkan.

    Proses ini membutuhkan waktu, dan para ilmuwan telah di bawah tekanan dari publik dan sesama peneliti untuk bekerja dengan cepat selama wabah virus Corona.

    Zheng Aihua, seorang ahli virologi dengan Institut Zoologi di Chinese Academy of Sciences di Beijing, mengatakan sebuah makalah dan data masih diperlukan bagi para peneliti di seluruh dunia untuk mengevaluasi dan memperluas karya tersebut.

    Beberapa pertanyaan tentang penyebab 2019-nCoV tetap ada. Misalnya, kelelawar dan trenggiling hidup di lingkungan yang berbeda. Meskipun keduanya mamalia malam hari, tidak jelas bagaimana virus melompat dari kelelawar ke trenggiling.

    Trenggiling adalah satu-satunya mamalia bersisik di dunia dan salah satu spesies yang paling dicari dalam perdagangan hewan ilegal. Berbeda dengan kelelawar, trenggiling adalah bahan makanan yang populer di restoran dan digunakan sebagai obat-obatan herbal tradisional Cina.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.