Belum Dievakuasi, Mahasiswa Afrika di Wuhan Resah

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • People wear masks as they walk near Ruins of St. Paul's, following the coronavirus outbreak in Macau, China February 5, 2020. REUTERS/Tyrone Siu

    People wear masks as they walk near Ruins of St. Paul's, following the coronavirus outbreak in Macau, China February 5, 2020. REUTERS/Tyrone Siu

    TEMPO.CO, Jakarta - Ibu Kota Provinsi Hubei, Wuhan, di Cina masih diisolasi ketat akibat semakin meluasnya virus corona. Virus yang mematikan itu diduga menyebar pertama kali di Wuhan pada akhir tahun lalu.

    Sampai pekan pertama Februari 2020, jumlah kematian akibat terjangkit virus corona lebih dari 500 orang dan menginfeksi puluhan ribu orang lainnya di seluruh dunia. Kasus pasien dengan virus corona setidaknya terjadi di 24 negara di dunia. 

    Aksi seorang pasien beradu siku dengan staf medis saat meninggalkan Rumah Sakit Tangdu Universitas Kedokteran Militer Angkatan Udara Xi'an di Cina, 4 Februari 2020. Pasien pertama yang dinyatakan sembuh dari virus Corona di Provinsi Shaanxi ini diizinkan pulang dari rumah sakit pada Selasa (4/2). Xinhua/Liu Xiao

    Kondisi ini tak pelak telah membuat Thomas Kanzira, 25 tahun, mahasiswa Fakultas Kedokteran asal Uganda di Universitas Jianghan, Wuhan, merasakan kekhawatiran luar biasa. Virus corona terus menyebar di Wuhan, daerah tempat ia dan ribuan mahasiswa asal Afrika lainnya menuntut ilmu. 

    “Saya bangun setiap pagi dan menyadari bahwa saya terperangkap. Saya terus mencek suhu tubuh. Saya bertanya-tanya apakah saya sudah terinfeksi (virus corona) hanya saja gejalanya belum muncul,” kata Kanzira.

    Kekhawatiran semakin menjadi ketika pihak universitas mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan kegiatan belajar karena jumlah kasus dan kematian yang mulai meningkat hari demi harinya. Kanzira menyebut kehidupan karantina di Kota Wuhan bagaikan film horor.

    "Jalanan kosong. Ini seperti adegan dari salah satu film kiamat Hollywood," katanya melalui sambungan telepon. 

    Hal yang membuat situasi lebih menyedihkan adalah ketika Kanzira merasa tidak adanya tindakan apapun yang dilakukan oleh pihak berwenang di negaranya. Berbeda dengan pemerintah negara-negara lain yang bergerak cepat mengevakuasi warganya keluar dari Kota Wuhan untuk menghindari terjangkitnya wabah tersebut.

    Kanzira mengungkapkan ia dan teman-temannya telah berupaya menghubungi berbagai pejabat Pemerintah Uganda, tetapi dia dan rekan-rekannya hanya diminta untuk mengikuti aturan yang diberlakukan oleh Pemerintah Cina. Uganda adalah salah satu negara yang terletak di Benua Afrika. 

    Awal pekan ini, Universitas Yangtze mengumumkan bahwa seorang mahasiswa laki-laki, 21 tahun, dari Kamerun telah terinfeksi virus corona. Mahasiswa itu tercatat sebagai warga dari Benua Afrika pertama yang di diagnosis terkena virus corona. 

    Maroko dan Mesir telah mengevakuasi warga negaranya. Aljazair juga menyewa pesawat untuk membawa pulang warga negaranya. Hal yang sama dilakukan Libya, Mauritania dan Tunisia pada warga negaranya di Cina. Kenya pada Minggu ini juga mengumumkan akan mengevakuasi 85 warga negara Kenya yang terjebak di Wuhan, Cina. 

    Mahasiswa Afrika di Wuhan yang belum dievakuasi mengaku mengalami gangguan psikologis berat yang tak bisa dijelaskan. Mereka hanya berharap adanya tindakan dari pemerintah Afrika agar segera mengevakuasi warganya dari tempat yang terisolasi ini akibat virus corona yang mematikan.

    ALJAZEERA | SAFIRA ANDINI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.