Imam di Rusia Diminta Tak Lagi Beri Berkah ke Senjata Nuklir

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pendeta di Rusia dikecam karena memberi berkah pada senjata nuklir dan senjata penghancur massa lainnya.

    Pendeta di Rusia dikecam karena memberi berkah pada senjata nuklir dan senjata penghancur massa lainnya.

    TEMPO.CO, Jakarta - Para imam di Rusia dihimbau oleh Gereja Orthodox Rusia agar menahan diri dari praktik-praktik memberikan berkah pada senjata nuklir dan senjata pemusnah massal lainnya yang bisa menimbulkan kehilangan nyawa tanpa pandang bulu. 

    “Memberikan berkah pada senjata-senjata militer tidak merefleksikan tradisi Gereja Orthodox dan tidak sesuai dengan kontek ritus,” demikian ditulis dalam situs Gereja Orthodox Moskow, seperti dikutip dari reuters.com.

    Memberikan berkah atau mensucikan senjata – senjata yang dapat membunuh orang sejumlah orang tanpa pandang bulu harus dikeluarkan dari praktik kepasturan. Permasalahan ini akan didiskusikan hingga 1 Juni mendatang dan masyarakat harus ikut berpartisipasi dalam debat itu.   

    Dalam simbol yang mencolok tentang hubungan gereja dengan sektor pertahanan yang erat di Rusia, terlihat saat Angkatan Bersenjata Rusia membangun katedral mereka sendiri yang luas bertema taman militer di luar Ibu Kota Moskow. Gereja itu ditetapkan sebagai salah satu gereja Ortodoks tertinggi di dunia. 

    Selama dua dekade berkuasa di Rusia, Presiden Vladimir Putin membangun hubungan secara personal dengan Gereja Orthodox, yang juga memiliki hubungan dekat dengan Kementerian Pertahanan Rusia.

    Para imam di Rusia sudah lama muncul di foto-foto sedang memercikkan air suci ke kapal selam, rudal balistik, roket ruang angkasa Soyuz dan tempat lain sebagai bagian dari ritual untuk memberkahi benda-benda itu. Tetapi beberapa di antaranya akan dihentikan jika gereja menyetujui dokumen yang disusun oleh komisi Gereja Ortodoks.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.