Cina: Dampak Virus Corona ke Perekonomian Hanya Jangka Pendek

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Vladimir Markov menunjukan suasana jalanan yang kosong di Kota Wuhan semenjak mewabahnya virus corona di Cina, 3 Februari 2020. WHO mengumumkan status darurat global untuk virus corona. VLADIMIR MARKOV/via REUTERS

    Vladimir Markov menunjukan suasana jalanan yang kosong di Kota Wuhan semenjak mewabahnya virus corona di Cina, 3 Februari 2020. WHO mengumumkan status darurat global untuk virus corona. VLADIMIR MARKOV/via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Cina mencoba untuk tetap optimistis meski penyebaran virus Corona mengganggu perekonomian mereka. Menurut Duta Besar Cina untuk Indonesia, Xioa Qian, pemerintahannya tetap berkeyakinan bahwa virus Corona tidak akan memberikan dampak ke pertumbuhan ekonomi untuk jangka panjang.

    "Menurut saya wabah ini memang akan memberikan dampak, tetapi hanya bersifat jangka pendek," ujar Xiao Qian dalam sesi tanya jawab di kediamannya, Selasa, 4 Februari 2020.

    Sebelum wabah virus Corona meledak, pertumbuhan ekonomi Cina berada di angka 6,1 persen dan diprediksi akan stagnan di angka tersebut sepanjang 2020. Namun, begitu wabah virus Corona meledak, diikuti dengan penghentian operasional berbagai pabrik, moratorium impor, dan larangan berpergian, pertumbuhan ekonomi Cina langsung diprediksi akan turun 1-2 persen, setidaknya di kuartal pertama 2020.

    Dalam riset yang dilakukan Oxford Economics, pertumbuhan ekonomi Cina diprediksi bisa anjlok ke 5,6 persen akibat virus Corona. Lebih lanjut, anjloknya pertumbuhan ekonomi itu juga akan menurunkan pertumbuhan ekonomi global sebanyak 0,2 persen menjadi 2,3 persen year on year.

    Hingga berita ini ditulis, pemerintah Cina belum mengeluarkan estimasi perihal dampak virus Corona ke pertumbuhan ekonomi mereka. Namun, beberapa kebijakan ekonomi sudah dipersiapkan untuk tetap menjaga sentimen positif. Misalnya, pemerintah Cina berencana mengeluarkan kebijakan kredit yang lebih ringan untuk mendorong kembali aktivitas saat status darurat Corona diberhentikan nantinya. Bank sentral di Cina juga berjanji pasar finansial akan tetap likuid di masa-masa penyebaran virus Corona.

    Xiao Qian tidak membantah bahwa Cina akan merasakan ketidakstabilan ekonomi untuk beberapa waktu ke depan. Namun, ia menyakini bahwa Cina bisa melewatinya apabila belajar dari situasi wabah SARS yang relatif lebih parah.

    "Dan, ketidakstabilan dalam jangka pendek tidak akan berpengaruh dalam jangka panjang. Kejadian sekarang tidak akan mempengaruhi dinamika ekonomi secara mendalam. Jadi, menurut saya, jangan khawatir," ujar Xiao Qian.

    Meski yakin bahwa wabah virus Corona hanya akan memberikan dampak jangka pendek ke pertumbuhan ekonomi, Xiao Qian tetap meminta negara-negara tetangga untuk tidak bereaksi berlebihan. Ia mengkritik negara-negara yang bertindak terlalu jauh dengan menerapakn travel ban dan melarang impor produk Cina. Salah satu negara itu adalah Indonesia.

    Indonesia, per 5 Februari, akan menutup rute penerbangan Indonesia-Cina untuk menekan kemungkinan virus Corona masuk ke Indonesia. Selain itu, Indonesia juga akan menghentikan impor sejumlah produk dari Cina untuk tujuan yang sama.

    "Cina adalah salah satu sumber investasi terbesar (untuk Indonesia). Dan, menurut saya, jika mengambil langkah pembatasan, itu sebenarnya juga akan merugikan pariwisata dan ekonomi Indonesia sendiri," ujar Xiao Qian menegaskan.

    ISTMAN MP


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.