Brexit, Uni Eropa Ingatkan Inggris Soal Konsekuensinya

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Koin 50 pence Brexit yang bertuliskan

    Koin 50 pence Brexit yang bertuliskan "Perdamaian, kemakmuran, dan persahabatan dengan semua bangsa" diunggah ke media sosial pada 26 Januari 2020. [HM TREASURY / Handout via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Inggris akan resmi keluar dari Uni Eropa (Brexit) pada hari ini, Jumat, 31 Januari 2020. Pada kesempatan terakhir, para pemimpin Uni Eropa kembali mengingatkan Inggris perihal konsekuensi yang akan ditanggung begitu meninggalkan Eropa.

    "Jangan mengharapkan akses terbaik ke pasar tunggal," ujar tiga pemimpin Uni Eropa yaitu Presiden Dewan Eropa Charles Michel, Presiden Parlemen Uni Eropa David Sassoli, dan Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen dalam keterangan tertulis yang dikutip kantor berita Reuters.

    Sebagaimana diketahui, Brexit adalah hasil dari upaya panjang pemerintah Inggris untuk memiliki kebijakan-kebijakan yang tidakt terikat dengan aturan Uni Eropa. Misalnya, Inggris ingin mengendalikan lagi kebijakan perdagangan dan migrasi yang selama ini mengikuti prinsip "pasar tunggal" Uni Eropa.

    Meski secara formil Brexit baru akan berlaku pada hari ini, kenyataannya tidak akan sesederhana itu. Dengan keluar dari Uni Eropa, maka Inggris harus mengatur kembali hubungan-hubungan kerja samanya dengan negara anggota Uni Eropa. Inggris memiliki waktu 11 bulan untuk mengatur semua itu.

    Selama 11 bulan tersebut, yang disebut sebagai periode transisi, Inggris akan tetap menggunakan atau mengacu ke aturan-aturan Uni Eropa, tak terkecuali dalam hal perdagangan. Dengan kata lain, sampai akhir Desember, Inggris masih akan memakai konsep pasar tunggal Uni Eropa.

    "Tanpa pergerakan bebas untuk orang, maka tidak akan ada pergerakan bebas untuk kapital, barang, dan jasa," ujar pemimpin Uni Eropa mengingatkan apa yang terjadi jika Inggris meninggalkan Pasar Tunggal di akhir tahun tanpa memiliki skema pengganti yang pasti.

    Secara terpisah, Perdana Menteri Irlandia, Leo Varadkar, optimistis perundingan antara Inggris dengan negara-negara anggota Uni Eropa perihal kesepakatan dagang akan berjalan mulus. Sebab, kata ia, sesungguhnya tidak banyak perbedaan antara hal yang diinginkan Inggris dan negara-negara Eropa.

    "Aku cukup yakin kami bisa mendapatkan kesepakatan yang bagus. Berita baiknya, tidak banyak perbedaan antara kami berdua, Uni Eropa dan Inggris. Lebih banyak perbedaan secara retoris dibandingkan substansi," ujar Varadkar soal Brexit.

    REUTERS | ISTMAN MP



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.