Belum Bisa Evakuasi WNI dari Cina, Kemenlu: Mereka Maklum

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Retno Marsudi. TEMPO/Yosep Arkian

    Retno Marsudi. TEMPO/Yosep Arkian

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah mengatakan bahwa evakuasi WNI kawasan terpapar virus Corona masih belum bisa dilakukan. Sebab, hingga saat ini, pemerintah Cina belum membuka akses evakuasi ke lokasi tersebut walaupun sudah ada permintaan dari WNI.

    "Ada permintaan (evakuasi), namun mereka memaklumi kondisi yang belum memungkinkan untuk evakuasi dilakukan," ujar Faizasyah ketika dihubungi Tempo, Selasa, 28 Januari 2020.

    Perkembangan terbaru, jumlah kasus terjangkit virus Corona di Cina terus meningkat. Jumlah korban meninggal naik dari 80 pada hari Senin lalu menjadi 106 pada hari ini. Sementara itu, jumlah pasien terpapar Corona naik drastis dari 2762 orang pada hari Senin menjadi 4562 pada hari ini. Mayoritas dari mereka berasal dari provinsi Hubei di mana salah satu kotanya adalah Wuhan, pusat penyebaran awal Corona.

    Jumlah WNI di Hubei sendiri mencapai ratusan. Berdasarkan data dari Kemenlu, jumlah mereka mencapai 243 orang di mana mayoritas adalah mahasiswa. Meski begitu, tidak ada satupun dari mereka yang positif terjangkit virus yang memiliki nama resmi 2019 nCoV Corona atau Novel Corona itu.

    Dengan masih tertutupnya akses untuk melakukan evakuasi WNI, kata Faizasyah, pihaknya hanya bisa melakukan persiapan teknis untuk saat ini. Persiapan itu dilakukan dengan melibatkan kementerian dan lembaga lain, termasuk Kementerian Kesehatan. Dengan beitu, saat akses evakuasi WNI dibuka, operasi penyelamatan bisa dilakukan sesegera mungkin.

    "Semua kesiapan telah dilakukan apabila evakuasi memungkinkan," ujar Faizasyah.

    Perihal masih ogahnya Cina membuka akses evakuasi WNI, Faizasyah tidak bisa mengungkapkan detilnya. Ia hanya mengatakan, faktor resiko dan isolasi menjadi beberapa hal yang menyebabkan evakuasi WNI masih sulit dilakukan. Problem yang sama, kata ia, juga dialami negara-negara lainnya seperti Inggris, Russia, dan Belanda yang belum bisa melakukan evakuasi.

    "Semua masih dalam posisi menunggu sinyal positif dari Cina," ujar Faizasyah mengakhiri.

    ISTMAN M.P.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.