Perkosaan Tinggi, Pria Ini Ciptakan Senjata Bentuk Aksesoris

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang laki-laki di India menciptakan senjata tersembunyi yang untuk melindungi perempuan dari perkosaan. Sumber: Ruptly/mirror.co.uk

    Seorang laki-laki di India menciptakan senjata tersembunyi yang untuk melindungi perempuan dari perkosaan. Sumber: Ruptly/mirror.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Shyam Chaurasia, laki-laki asal Kota Varanasi di India Utara, mengembangkan senjata berbentuk barang, seperti lipstik, dompet, dan sepatu yang bertujuan mempersenjatai perempuan dalam melawan perkosaan dan kekerasan seksual lainnya. 

    Gagasan untuk membuat senjata seperti ini, muncul saat Chaurasia menyaksikan protes keras di penjuru India atas perkosaan berantai dan pembunuhan seorang dokter hewan pada November 2019. Sisa tubuh perempuan 27 tahun itu yang ditemukan telah terbakar itu di Kota Hyderabad selatan, India. 

    Para pelaku perkosaan diduga telah menggembosi ban kendaraan korban sebelum berpura-pura membantunya. Korban diseret ke dekat kerumunan tanaman tempat dia diperkosa dan dibekap.Keempat tersangka dalam kasus itu tewas tertembak mati oleh polisi bersenjata setelah mereka mencoba merebut senjata petugas ketika melakukan rekonstruksi adegan. 

    Tindak perkosaan itu telah menghantui kaum perempuan India dan mengingatkan pada kejadian perkosaan seorang penumpang bus Delhi pada 2012 silam. Kejadian ini mendapat perhatian nasional dan mendorong terjadinya perubahan undang-undang di India. 

    Senjata-senjata buatan Chaurasia dibuat menyerupai senjata dalam film-film klasik James Bond seperti Moonraker (arloji dart) dan yang terbaru Specter (senapan sepatu). Walaupun bisa melukai, namun produk ini tidak dimaksudkan untuk membunuh. 

    Chaurasia, yang sebelumnya viral saat dia memakai baju Iron man buatannya, mengklaim senjata buatannya bisa digunakan untuk melawan teroris. Senjata-senjata yang mirip aksesoris itu dijual secara online. 

    Chaurasia yang bekerja di Institut teknologi dan Manajemen Ashoka, India, menjelaskan bagaimana lipstik buatannya dirancang untuk menjadi alat penyerang potensial dalam menembak lawan. Priyanka Sharma, warga India yang tinggal dekat dengan tempat uji coba senjata buatan Chaurasia mengatakan sangat menyukai senjata tersebut, yang sudah dijajalnya. 

    “Saya yakin semua orang juga akan menyukai ini. Ini akan menjadi sangat penting bagi perempuan karena kejahatan terhadap perempuan meningkat setiap harinya,” kata Sharma. 

    Senjata buatan Chaurasia dibuat tersembunyi yang bisa disimpan dalam tas tangan yang dimodifikasi supaya mudah ditarik pelatuknya dan disimpan lebih aman. 

    “Pistol lipstik terutama, bukan hanya ditujukan untuk keselamatan perempuan India, namun perempuan dimanapun yang menghadapi pelecehan dan pemerkosaan. Setelah melihat kejahatan terhadap perempuan, saya ingin mengembangkan beberapa produk untuk keselamatan perempuan dan menciptakan perangkat prototipe ini,” kata Chaurasia. 

    Chaurasia menjelaskan ketika seorang perempuan dalam masalah atau siapapun mencoba mengganggunya, maka perempuan itu dapat menekan tombol pada pistol lipstik yang terhubung ke bluetooth ponselnya dan akan segera diteruskan ke panggilan darurat 112 atau layangan darurat lainnya sehingga polisi dapat segera datang untuk membantunya. 

    “Sementara sebelum polisi tiba, lipstik senjata ini juga akan menembakkan peluru kosong dan memperingatkan masyarakat agar ada yang datang membantunya,” terang Chaurasia. 

    Perkosaan saat ini merupakan kejahatan paling umum terbesar keempat yang dialami perempuan di India. Data NCRB memperlihatkan perkosaan dilaporkan terjadi setiap 15 menit di India pada sepanjang 2018. Chaurasia saat ini sedang berupaya mendapatkan hak paten untuk senjata-senjata bentuk aksesoris ciptaannya.

    Galuh Kurnia Ramadhani | mirror.co.uk


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.