Unjuk Rasa di Rusia Menolak Usulan Perubahan Konstitusi

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lebih dari seribu orang melakukan aksi protes di Moskow mengkritik langkah Presiden Putin yang mengajukan proposal perubahan konstitusi. Sumber: Reuters

    Lebih dari seribu orang melakukan aksi protes di Moskow mengkritik langkah Presiden Putin yang mengajukan proposal perubahan konstitusi. Sumber: Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Lebih dari seribu orang pada Minggu, 19 Januari 2020 berunjuk rasa di jantung Kota Moskow, Rusia. Seorang kritikus Kremlin (Pemerintah Rusia) menyebut aksi turun ke jalan ini sebagai bentuk protes terhadap perombakan konstitusi oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin, namun banyak demonstran memilih menyuarakan masalah-masalah lain dalam aksi protes itu. 

    Yulia Galyamina, anggota dewan kota Moskow, telah mendesak masyarakat untuk turun ke jalan dan menyuarakan penolakan mereka atas proposal perubahan konstitusi yang diajukan Presiden Putin. Namun banyak dari pengunjuk rasa tidak mengindahkan seruannya, jumlah demonstran pun lebih sedikit daripada demonstran protes oposisi yang terjadi pada musim panas lalu, dimana puncak unjuk rasa diikuti oleh sekitar 60 ribu orang. 

    Galyamina, dalam aksi protesnya  membawa salinan konstitusi Rusia yang katanya terancam oleh reformasi Putin. 

    “Putin pergi!” teriak Galyamina, yang diikuti demonstran.

    Lebih dari seribu orang melakukan aksi protes di Moskow mengkritik langkah Presiden Putin yang mengajukan proposal perubahan konstitusi. Sumber: Reuters

    Protes hari Minggu tersebut juga dihadiri oleh berbagai kelompok dengan tuntutan politik yang berbeda, termasuk anti-fasis, aktivis hak-hak perempuan, kelompok kiri dan mahasiswa yang berarti komponen protes anti-Putin terdilusi. 

    Usulan reformasi yang diajukan Presiden Putin, juga memicu pengunduran diri Perdana Menteri dan beberapa pejabat pemerintahan pada pekan lalu. Pengajuan proposal perubahan konstitusi yang disorongkan Putin secara luas dipandang memberi ruang pada Putin untuk memperluas cakar kekuasaannya begitu ia meninggalkan kursi kepresidenan pada 2024. 

    Perubahan konstitusi yang digagas Putin dikhawatirkan akan menciptakan pusat-pusat kekuatan baru di luar sistem kepresidenan. Sedangkan para kritikus mengatakan nantinya Putin bisa menarik tali dari balik layar lewat perubahan konstitusi ini. 

    Sebelumnya pada Sabtu lalu, beberapa orang Rusia bergantian mengadakan piket di luar gedung administrasi kepresidenan untuk menyatakan ketidaksetujuan mereka dengan reformasi konstitusi Putin. Kantor berita TASS juga melaporkan bahwa pihak berwenang di Moskow telah mengesahkan protes yang di setujui hingga 10 ribu orang terhadap reformasi Putin. 

    Galuh Kurnia Ramadhani | reuters.com


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.