Taliban Mau Gencatan Senjata Jelang Kesepakatan dengan Amerika

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemimpin Taliban Afganistan di kantor pusatnya di Doha Qatar. [EXPRESS TRIBUNE]

    Pemimpin Taliban Afganistan di kantor pusatnya di Doha Qatar. [EXPRESS TRIBUNE]

    TEMPO.COKabul – Kelompok Taliban, yang pernah berkuasa di Afganistan, berupaya mencapai kesepakatan penarikan pasukan Amerika Serikat pada akhir Januari 2020.

    Kelompok yang sekarang menjadi gerilyawan ini bersiap mengurangi operasi militernya menyerang pasukan koalisi pimpinan Amerika dan pemerintahan Afganistan menjelang penandatangan kesepakatan ini.

    Kepala juru bicara Taliban, Suhai Shaheen mengatakan ini kepada media Dawn dan dikutip Channel News Asia pada 18 Januari 2020.

    “Ini menyusul pertemuan Taliban dan Amerika di Doha, Qatar, baru-baru ini,” begitu dilansir Channel News Asia pada Sabtu, 18 Januari 2020.

    Shaheen juga mengatakan,”Kami telah sepakat untuk menurunkan operasi militer menjelang penandatanganan perjanjian damai dengan AS.”

    Shaheen mengaku optimistis perjanjian perdamaian dengan Amerika bisa tercapai pada akhir bulan ini. Dia juga mengatakan pengurangan serangan militer itu juga akan berlaku terhadap target pasukan pemerintah Afganistan.

    Washington telah meminta Taliban untuk mengurangi serangannya sebagai syarat dimulainya negosiasi formal kedua pihak.

    Kesepakatan kedua pihak menyangkut penarikan pasukan AS dari Afganistan dengan imbalan jaminan keamanan setelah pertempuran sengit selama dua dekade.

    Taliban dan AS telah bernegosiasi selama beberapa tahun dan nyaris berujung pengumuman gencatan senjata pada September 2019.

    Namun, Presiden AS, Donald Trump, membatalkannya dengan alasan serangan Taliban.

    Pembicaraan sempat berlangsung lagi dpada Desember di Doha, Qatar, namun kembali terhenti pasca serangan militer dekat markas militer AS di Bagram.

    Reuters melansir Trump juga sempat berencana mengundang sejumlah petinggi Taliban ke Kamp David untuk perjanjian perdamaian. Namun, menteri Pertahanan AS saat itu menolaknya sehingga pertemuan itu batal. Menhan AS, James Mattis, lalu diminta mengundurkan diri.

    Hubungan AS dengan Taliban memanas setelah kelompok tradisional agama ini melindungi Osama Bin Laden, yang dituding Washington bertanggung jawab atas serangan ke dua menara kembar WTC.

    Meski telah berdialog dengan Amerika, Taliban enggan berdiskusi dengan pemerintahan Afganistan saat ini, yang dianggapnya tidak memiliki legitimasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.