Vladimir Putin Ajukan Proposal Perubahan Konstitusi Rusia

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Rusia Vladimir Putin masih menggunakan Windows XP, yang oleh Microsoft  sudah dihentikan pelayanannya. (openmedia.io)

    Presiden Rusia Vladimir Putin masih menggunakan Windows XP, yang oleh Microsoft sudah dihentikan pelayanannya. (openmedia.io)

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu, 15 Januari 2020, mengajukan proposal perubahan konstitusi yang akan memberikannya kesempatan memperpanjang kekuasaannya setelah meninggalkan kursi kepresidenan. Dalam proposalnya Presiden Putin juga memilih seorang Perdana Menteri Rusia yang baru setelah Perdana Menteri Dimitry Medvedev dan kabinetnya mengundurkan diri. 

    Yang paling penting dalam proposal yang disorongkan Presiden Putin adalah dia menyarankan agar kekuasaan presiden dikurangi dan memperkuat kekuasaan perdana menteri.         

    Situs reuters.com mewartakan langkah dramatis ini dipandang luas sebagai persiapan menjelang pemilu 2024, dimana Presiden Putin, 67 tahun, tidak bisa lagi mencalonkan diri sebagai Presiden Rusia. Putin terhitung sejak 1999 silih berganti menduduki jabatan di Kremlin (pemerintahan) atau sebagai Perdana Menteri Rusia. 

    Dalam proposalnya, Presiden Putin menominasikan Mikhail Mishustin, 53 tahun, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Pajak menjadi Perdana Menteri Rusia selanjutnya. Mishustin dikenal teman bermain Presiden Putin dalam olahraga hoki es, dimana sosoknya sedikit dikenal publik dan sebelumnya tidak pernah disebut-sebut kandidat perdana menteri.      

    Mishustin kemungkinan akan dipandang sebagai seorang penerus bagi kekuasaan presiden Rusia yang dikurangi, seperti halnya anggota kabinet Putin yang banyak dari mereka diprediksi akan menduduki posisi lagi di pemerintahan yang baru. 

    Sebelumnya banyak kritik menuduh Presiden Putin sedang membuat rencana untuk tetap menempatkan beberapa cakar kekuasaannya setelah dia meninggalkan kursi jabatan presiden Rusia. Rusia saat ini telah menjadi salah satu negara kekuatan dunia dan negara dengan energi nuklir terbesar kedua di dunia. 

    Presiden Putin menyarankan agar proosalnya yang disusunnya diputuskan lewat sebuah referendum. Proposal itu jika diloloskan, maka akan memberikannya sebuah kesempatan untuk menduduki jabatan sebagai perdana menteri Rusia setelah tahun 2024 atau sebuah peran baru sebagai kepada Dewan Negara, yakni sebuah badan pemerintahan yang sangat ingin dibuat oleh Putin. Presiden Putin juga berpeluang menjadi pembicara parlemen. Politikus oposisi, Leonid Volkov, melihat hal ini sebagai langkah Presiden Putin menggali lubang (kekuasaannya) lebih dalam.     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.