Cina Kerahkan Kekuatan Teknologi Hadapi Mudik Imlek

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi stasiun kereta Hangqiao di Shanghai, Cina. Sumber: asiaone.com/Reuters

    Kondisi stasiun kereta Hangqiao di Shanghai, Cina. Sumber: asiaone.com/Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Ratusan juta masyarakat Cina diprediksi akan melakukan perjalanan pulang kampung (mudik) untuk menghabiskan tahun baru atau Imlek 2020. Terkait hal ini, Pemerintah Cina pun mengoptimalkan sejumlah kekuatan teknologi terbaru yang diharapkan bisa memudahkan perjalanan mereka yang pulang kampung.

    Menurut laporan media China News Services, lewat teknologi ini, penumpang yang kehilangan kartu identitas di Stasiun Kereta Timur Hangzhou dapat meminta ID sementara yang akan muncul hanya dalam tempo 30 detik dengan bantuan teknologi pengenalan wajah.

    Printer ID sementara akan mencocokkan wajah penumpang dengan nomor identitas mereka dan mencetak dokumen identitas baru. Sebelumnya penumpang harus mengantri di konter staf untuk mendapat ID sementara atau mengunjungi kantor polisi untuk mengganti ID mereka.

    Akan ada pula robot keamanan yang dilengkapi dengan teknologi jaringan generasi kelima (5G) yang akan membantu para staf di stasiun kereta api untuk mendeteksi orang-orang dengan perilaku mencurigakan. Robot tersebut menggunakan kecerdasan buatan (Al) untuk menganalisis perilaku orang-orang di stasiun.

    Imlek dikenal pula sebagai momen pergerakan massa terbesar di dunia. Menjelang tahun baru Cina, ratusan juta orang di penjuru Cina akan ke kota asal mereka untuk berkumpul bersama keluarga. Pada 2020, tahun baru Cina jatuh pada 25 Januari atau tahun Tikus dalam penanggalan Cina.

    China State Railway Group memperkirakan awal bulan ini rata-rata 11 juta perjalanan kereta api akan diberangkatkan per hari, dengan total 440 juta perjalanan kereta api selama 5 pekan, yakni antara 10 Januari hingga 18 Februari 2020. Perhitungan ini naik delapan persen dari angka tahun lalu yang sekitar 410 juta perjalanan kereta api.

    Adopsi teknologi Al dan 5G selama periode puncak perjalanan tahunan sejalan dengan penekanan Beijing pada teknologi ini dalam beberapa tahun terakhir. Al telah dikerahkan untuk melayani semua aspek mulai dari menangkap pejalan kaki hingga menyortir sampah. Sedangkan teknologi 5G di Cina sudah diberlakukan sejak tahun lalu di penjuru Negeri Tirai Bambu itu.

    Rute kereta api 5G pertama negara itu berada di semua kereta api di Guangzhou-Shenzhen-Hong Kong, mereka juga memulai layanan ini terhitung sejak hari pertama musim mudik Imlek.

    Proyek 5G di sepanjang rute kereta api, merupakan upaya bersama antara operator telekomunikasi China Mobile, China Railway Guangzhou Group dan produsen peralatan telekomunikasi Huawei Technologies. Mereka memulai pembangunan teknologi 5G pada September 2019 lalu sebagai persiapan untuk musim mudik. Lebih dari 300 stasiun pusat 5G telah dijadwalkan dibangun di sepanjang rute. Sinyal juga dipastikan tetap hidup meski kereta masuk terowongan dan stasiun.

    Ahli bidang industri telekomunikasi Cina, Zhang Wei, mengatakan ketika proyek ini pertama kali diumumkan Agustus 2019, layanan mobile generasi selanjutnya akan menawarkan kecepatan data yang lebih cepat, latensi yang berkurang, hemat energi, hemat biaya, kapasitas sistem lebih tinggi dan konektivitas perangkat yang besar-besaran. Diharapkan untuk selanjutnya mereka dapat memecahkan jaringan 4G yang tidak stabil bahkan pada kecepatan perjalanan kereta 350 km per jam.

    asiaone.com | Galuh Kurnia Ramadhani 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.