Banyak Kejanggalan di Serangan Iran ke Basis Militer AS

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Serangan balasan Iran ke markas militer Amerika Serikat di Ain al-Asad, Irak, gagal total. Alih-alih memakan korban, tidak ada satupun personel militer AS yang terluka dalam serangan Rabu pekan lalu tersebut. Kantor berita Reuters, pada hari Selasa, 14 Januari 2020, menyebutnya sebagai "the worst kept secret".

    Banyak spekulasi beredar perihal kenapa serangan 12 rudal balistik dari Iran gagal memberikan dampak berarti. Ada yang menduga rencana balasan atas tewasnya Qassem Soleimani itu bocor, ada juga yang mengklaim bahwa Iran hanya mengirimkan tembakan peringatan. AS maupun Iran tidak membantu menjelaskan karena memberikan keterangan yang berbeda-beda.

    Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengklaim bahwa Iran jelas-jelas ingin membunuh personel militer AS pasca pembunuhan Qassem Soleimani. Ia tidak meragukan laporan intelijen yang ia dapat. Pernyataan tersebut senada dengan perkataan Mark Milley, Kepala Staf Presiden AS, yang menyatakan bahwa keberhasilan militer AS bukan dikarenakan bocornya rencana serangan Iran.

    Sementara itu, Iran menyatakan bahwa mereka tidak berniat membunuh personel militer AS. Kepala Iran's Revolutionary Guard, Amir Ali Hajizadeh, mengatakan bahwa ia hanya berniat memperingatkan militer AS perihal konsekuensi membunuh Qassem Soleimani.

    "Kami tidak berniat membunuh. Kami hanya berniat menyerang peralatan militer AS," ujar Hajizadeh sebagaimana dikutip dari Reuters. Anehnya, meski mengklaim tidak berniat membunuh, Hajizadeh beberapa kali menyebarkan kabar bahwa serangan Iran menewaskan sejumlah personel militer AS.

    Stasiun televisi milik pemerintah Iran memberikan klaim serupa. Pemimpin Iran, Ayatolla Ali Khamenei, pun ikut berkata bahwa serangan yang telah dilancarkan belum cukup menghukum AS.

    Dugaan terbaru, Iran secara tidak langsung memang memberi tahu AS soal rencana serangan mereka. Dalam wawancara dengan Reuters, penasihat Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi mengatakan bahwa Iran menyampaikan peringatan tersebut via satu negara Eropa dan satu negara Arab. Walhasil, meski rencana serangan mereka tidak disampaikan ke Irak maupun AS, keduanya tetap mengetahuinya jauh-jauh sebelum rudal ditembakkan.

    "Iran memang berniat Amerika dan Irak tahu bahwa mereka akan menyerang," ujar penasihat tersebut ke Reuters. Hingga berita ini ditulis, AS masih konsisten mengatakan bahwa mereka telah memprediksi serangan Iran dan berhasil menyelamatkan personel militer mereka dari bahaya. 

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.