Tsai Ing-wen Menang Pilpres Taiwan, Lawan Cina

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden baru Taiwan, Tsai Ing-wen (tengah) ditemani bersama wakil Presiden Chen Chien-jen (kanan) saat menghadiri upacara pelantikan mereka di Taipei, Taiwan, 20 Mei 2016. Taiwan resmi melantik Tsai Ing-wen sebagai presiden perempuan pertama di Taiwan. AP Photo

    Presiden baru Taiwan, Tsai Ing-wen (tengah) ditemani bersama wakil Presiden Chen Chien-jen (kanan) saat menghadiri upacara pelantikan mereka di Taipei, Taiwan, 20 Mei 2016. Taiwan resmi melantik Tsai Ing-wen sebagai presiden perempuan pertama di Taiwan. AP Photo

    TEMPO.COTaipei – Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, memenangkan pemilihan umum Presiden dengan meraih sekitar 57 persen suara.

    Kemenangan Tsai ini menjadi pukulan politik bagi Cina, yang menilai Tsai cenderung ingin menjaga jarak dari Beijing.

    “Hari ini kita telah membela demokrasi dan kebebasan kita. Besok mari berdiri bersama mengatasi semua tantangan dan kesulitan,” kata Tsai di depan kerumunan pendukungnya seperti dilansir Channel News Asia pada Sabtu, 11 Januari 2019.

    Tsai meraih suara sekitar 8.2 juta atau lebih tinggi 1.3 juta suara dibandingkan kemenangannya pada 2016.

    Rival utamnya yaitu Han Kuo-yu dari Partai Kuomintang, yang pro Beijing, hanya meraih 39 persen suara dan mengakui kekalahannya.

    Selama kepeminpinannya empat tahun terakhir, Tsai meningkatkan pertumbuhan ekonomi Taiwan, penguatan teknologi militer dan mengatasi tekanan diplomatik dari Cina.

    Beijing berupaya menekan Taiwan agar penduduk merasa takut memilih Tsai, yang didukung Partai Progresif Demokratik atau DPP.

    Sebagian dukungan publik ini beralih ke Tsai dan DPP karena tindakan Cina, yang mendukung sikap keras pemerintahan semi otonomi Hong Kong dalam mengatasi kerusuhan politik terbesar di wilayah bekas koloni Inggris itu.

    Seperti dilansir Reuters, warga Hong Kong kerap turun ke jalan dan bentrok dengan polisi sejak Juni 2019. Mereka awalnya memprotes upaya pengesahan RUU Ekstradisi. Belakangan, tuntutan warga berkembang menjadi penerapan demokrasi secara penuh di Hong Kong. 

    Saat berkampanye, Tsai menggambarkan dirinya sebagai seorang pembela nilai-nilai kebebasan demokrasi. Ini dilakukan untuk melawan bayang-bayang otoriterianisme yang ditunjukkan Cina di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping.

    Beijing bertekad untuk mengambil alih Taiwan pada suatu hari meskipun harus menggunakan kekuatan militer. Para pemimpin di Beijing tidak menyukai Tsai, yang dianggap menolak mengakui Taiwan bagian dari Cina.

    “Hari ini, saya ingin mengingatkan para pemimpin di Beijing bahwa perdamaian, demokrasi dan dialog merupakan kunci stabilitas,” kata dia.

    Tsai juga menegaskan bahwa,”Saya ingin otoritas di Beijing tahu bahwa Taiwan yang demokratis dan pemerintahan kami yang terpilih secara demokratis tidak akan mengalah terhadap ancaman.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.