Populasi Muslim di Inggris Tembus 3 Juta Orang untuk Pertama Kali

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Duchess of Sussex Meghan Markle berbincang dengan ibu-ibu dari  komunitas Hubb Community Kitchen saat memasak bersama, di London, Inggris, Rabu, 21 November 2018. Hubb Community Kitchen beranggotakan perempuan mayoritas Muslim, yang merupakan korban kebakaran blok apartemen Menara Grenfell pada Juni 2017. Chris Jackson/Pool via REUTERS

    Duchess of Sussex Meghan Markle berbincang dengan ibu-ibu dari komunitas Hubb Community Kitchen saat memasak bersama, di London, Inggris, Rabu, 21 November 2018. Hubb Community Kitchen beranggotakan perempuan mayoritas Muslim, yang merupakan korban kebakaran blok apartemen Menara Grenfell pada Juni 2017. Chris Jackson/Pool via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Populasi Muslim di Inggris telah menembus angka tiga juta orang Muslim untuk pertama kalinya.

    Studi pemerintah Inggris mengatakan bahwa Muslim adalah kelompok agama yang tumbuh paling cepat di Inggris, sementara penganut Kristen terus menurun, menurut laporan Daily Mail, 4 Januari 2020.

    Angka-angka tersebut dirilis oleh Kantor Statistik Nasional (ONS) sebagai bagian dari proyek penelitian untuk pertama kalinya melakukan penilaian secara teratur terhadap ukuran berbagai kelompok etnis dan agama.

    Sampai sekarang populasi agama dan etnis minoritas hanya dapat diukur sekali dalam satu dekade menggunakan hasil dari sensus nasional sepuluh tahunan.

    Menurut penilaian ONS, jumlah umat Kristen terus menurun, tetapi penurunan ini melambat.

    Di antara kelompok-kelompok agama lain, populasi umat Hindu sedikit meningkat, sementara populasi orang Sikh telah menurun dengan jumlah yang serupa.

    Skala populasi orang Yahudi dan Buddha tetap stabil, kata laporan itu.

    Bagi orang-orang yang mengatakan bahwa mereka tidak memiliki agama sama sekali, atau yang tidak akan membahas agama mereka telah meningkat hampir sepertiga dari populasi Inggris. Peningkatan ini hampir pasti dikarenakan turunnya kepercayaan terhadap Kristen.

    ONS juga memperkirakan bahwa proporsi orang di Inggris yang mengatakan mereka mengikuti agama selain dari agama besar, naik lebih dari tiga kali lipat antara 2011 dan 2016.

    Peningkatan ini mungkin sekali lagi merupakan hasil dari orang yang mencari kepercayaan baru setelah menjadi kecewa dengan agama Kristen.

    Ihya menjadi khatib salat Jumat (Jumma prayer) di Heriot-Watt University pada Jumat siang, 8 November 2019, waktu setempat bagi para mahasiswa, pekerja, hingga anak-anak muslim di sana.

    Angka-angka baru menunjukkan bahwa pada tahun 2016, lima tahun setelah sensus nasional 2011, ada 3.138.000 Muslim di Inggris dan Wales, naik lebih dari 400.000 dari 2,7 juta selama lima tahun. Ini merupakan peningkatan sekitar 16 persen.

    Di Inggris saja, perkiraan ONS mengatakan ada 3.092.000 Muslim pada 2016.

    Sebagai bagian dari populasi Inggris, penilaian menunjukkan bahwa kelompok agama Islam mencapai 5,6 persen pada 2016 dibandingkan 4,7 persen pada 2011.

    "Ada penurunan untuk kelompok Kristen, meskipun tetap kelompok terbesar di Inggris," menurut laporan.

    "Proporsi yang lebih rendah dari populasi dalam kelompok Kristen diimbangi oleh proporsi yang lebih tinggi dari semua kelompok lain, dengan peningkatan terbesar terlihat untuk Muslim," lanjut laporan.

    ONS menambahkan bahwa ahli statistik belum bisa menunjukkan alasan untuk pertumbuhan populasi Muslim dan penurunan agama Kristen.

    "Dengan gangguan berdasarkan karakteristik lain, misalnya berdasarkan usia atau jenis kelamin, kami tidak dapat menarik kesimpulan tentang apa yang menyebabkan perbedaan ini," kata laporan itu.

    Kecepatan peningkatan populasi Muslim yang diperkirakan oleh penelitian baru tampaknya cocok dengan yang terdeteksi oleh sensus nasional. Pada tahun 2001, sensus mengatakan Muslim membentuk 3,0 persen dari jumlah di Inggris dan Wales.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.