Jenderal Qassem Soleimani Tewas, Trump Enggan Perang dengan Iran

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Presiden AS Donald Trump, saat melakukan kampanye di Battle Creek, Michigan, 19 Desember 2019. Trump didakwa dengan dua pasal. Yakni, penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan diri dan politiknya sendiri, dan menghalangi penyelidikan kongres terkait isu Ukraina. REUTERS/Leah Millis

    Ekspresi Presiden AS Donald Trump, saat melakukan kampanye di Battle Creek, Michigan, 19 Desember 2019. Trump didakwa dengan dua pasal. Yakni, penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan diri dan politiknya sendiri, dan menghalangi penyelidikan kongres terkait isu Ukraina. REUTERS/Leah Millis

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Donald Trump mengatakan serangan drone Amerika yang menewaskan jenderal Garda Revolusi Iran Qassem Soleimani bukan untuk memulai perang dengan Iran.

    Trump mengakui ia mengesahkan serangan presisi terhadap komandan dinas keamanan dan intelijen Iran karena ia merencanakan serangan terhadap Amerika.

    "Kami menangkapnya dalam tindakan itu dan menghentikannya," kata Trump pada Jumat, sehari setelah serangan yang menewaskan Qassem Soleimani di bandara Baghdad, seperti dilaporkan CNN, 4 Januari 2020.

    Trump mengatakan di Mar-a-Lago bahwa Soleimani seharusnya dibunuh oleh presiden sebelumnya dan keputusannya sebagai salah satu pencegahan dan bukan agresi.

    "Kami menilai tindakan tadi malam untuk menghentikan perang. Kami tidak mengambil tindakan untuk memulai perang," kata Trump.

    Jenderal Qassem Soleimani.[Business Insider]

    Meskipun Trump pada hari Jumat berusaha untuk menjelaskan serangan itu sebagai pencegahan perang, ia terus mengancam para pemimpin Iran dengan serangan lebih lanjut jika mereka melanjutkan melakukan tindakan de-stabilisasi di Timur Tengah.

    "Kami tidak ingin perubahan rezim," kata Trump, seraya menambahkan bahwa penggunaan perang proksi Iran harus berakhir.

    Sementara Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami mengatakan Iran akan membalas dendam atas pembunuhan Mayor Jenderal Iran Qassem Soleimani, menurut kantor berita negara IRNA, dilaporkan Reuters.

    "Balas dendam yang menghancurkan akan diambil untuk membalas pembunuhan Soleimani yang tidak adil ... Kami akan membalas dendam dari semua yang terlibat dan bertanggung jawab atas pembunuhannya," kata Hatami.

    Dikutip dari TIME, Soleimani, 62 tahun, memimpin Pasukan Quds, cabang Garda Revolusi Iran yang bertanggung jawab untuk operasi di luar negeri, mulai dari sabotase dan serangan teror hingga memasok milisi yang beroperasi sebagai pasukan pengganti Iran.

    Mayor Jenderal Soleimani diketahui melapor dan mendapat perintah langsung dari dan kepada Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, menurut Sky News.

    Di luar urusan dalam negeri, dikendalikan oleh Presiden Hassan Rouhani, jenderal besar dipandang sebagai orang paling kuat kedua di negara ini. Pengamat telah membandingkan status Qassem Soleimani seperti wakil presiden AS.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.