Perdana Menteri Selandia Baru Baca Buku Dear Donald Trump

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Buku Dear Donald Trump. Sumber: Reuters

    Buku Dear Donald Trump. Sumber: Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam tumpukan buku koleksi Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, terdapat buku anak-anak tentang Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Buku itu menceritakan soal tembok perbatasan Amerika Serikat – Meksiko. 

    Dikutip dari reuters.com, Kamis, 12 Desember 2019, buku ‘Dear Donald Trump’ berkisah seorang remaja laki-laki dari Selandia Baru yang menulis serangkaian surat tak berbalas kepada Presiden Amerika Serikat. Surat – surat itu meminta nasihat kepada Presiden Trump, dimana remaja laki-laki itu ingin membangun sebuah tembok agar kakak laki-lakinya yang mengesalkan tersebut bisa keluar dan tidak lagi berbagi kamar dengannya.

    Buku ‘Dear Donald Trump’ adalah satu dari beberapa buku yang tergeletak di atas meja kerja Perdana Menteri Ardern. Reuters melihatnya saat melakukan wawancara dengannya pada Rabu, 11 Desember 2019.

    “Saya mungkin harus memindahkan beberapa dari buku-buku itu. Buku ‘Dear Donald Trump’ itu lucu,” kata Perdana Menteri Ardern.   

    PM Selandia Baru, Jacinda Ardern, berpidato dalam peringatan serangan teror jamaah masjid atau National Remembrance Service di lapangan Hagley Park, Christchurch, pada Jumat, 29 Maret 2019.

    Ardern mencuri perhatian dunia ketika pada 2017 dia menjadi Perdana Menteri Perempuan Selandia Baru termuda. Saat itu, usianya 37 tahun. Putrinya yang berusia 18 bulan sering mengunjunginya di kantornya.

    Ardern telah digambarkan oleh bebrapa pendukung liberal sebagao sosok yang anti-Trump, yang suka mempromosikan isu-isu keadilan sosial, multilateralisme, perlindungan lingkungan dan kesetaraan di forum-forum internasional, termasuk di PBB. Juru bicara Perdana Menteri Ardern menolak berkomentar soal buku ‘Dear Donald Trump’ di meja kerja atasannya itu.    

    Sophie Siers, penulis asal Selandia Baru, mengatakan pada awal 2019 bahwa penulisan buku itu karena dia terinspirasi debat soal rencana Trump membangun tembok di perbatasan Amerika Serikat – Meksiko.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.