Musik Rock and Roll Terancam Tak Terdengar Lagi di Brasil

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aksi Rami Malek memerankan Freddie Mercury dalam film Bohemian Rhapsody

    Aksi Rami Malek memerankan Freddie Mercury dalam film Bohemian Rhapsody

    TEMPO.CO, Jakarta - Musik rock and roll terancam tidak akan terdengar di Brasil setelah seorang pejabat top presiden Jair Bolsonaro untuk bidang budaya menyatakan perang melawan musim rock and roll.

    Menurut Dante Mantovani, Ketua Yayasan Seni Nasional, musik rock and roll mengarahkan orang untuk mengkonsumsi narkoba, seks, dan aborsi atau menggugurkan kandungan.

    "Pada saat yang sama, industri aborsi mengarah pada sesuatu yang jauh lebih serius yakni Setanisme," kata Mantovani, seperti dilaporkan CNN, 5 Desember 2019.

    Brasil yang terkenal dengan musik samba, maracatu, dan foor, juga sudah lama menjadi rumah bagi berbagai jenis musik global.

    Tiga dekade lalu di Rio de Janeiro, ibukota Brasil, Freddie Mercury membuat sejarah dengan tampil membawakan lagu-lagu rock in roll seperti Love of My Life. Ribuan orang pemuja Oueen menyaksikan festival musik tersebut.

    Mantovani bahkan mengejek ikon musik rck Elvis Presley dan Joh Lennon membuat perjanjian dengan Setan agar menjadi terkenal dan sukses.

    Di satu rekaman video, Mantonvai juga menyalahkan musik rock karena menghancurkan jalinan moral keluarga Amerika pada era 1960an.

    Felipe Andreoli, pemain bas di grop band rock Brasil, Angra menyatakan, dia merasa sangat malu dengan pernyataan pejabat seperti Mantovani.

    "Saya takut melihat orang yang fanatik dan picik menjabat di posisi yang begitu penting bagi budaya negara kami," kata Andreoli.

    Tidak jelas apakah penilaian pejabat Brasil ini akan berdampak pada proyek yang didanai untuk menggelar musim rock and roll di Brasil.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.