Empat Bulan Salat Jumat Tak Terdengar di Masjid Kashmir

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Personel pasukan keamanan India berjaga di sebelah kawat berduri yang diletakkan di seberang jalan selama pembatasan setelah pemerintah menghapus status khusus untuk Kashmir, di Srinagar 7 Agustus 2019. [REUTERS / Danish Ismail]

    Personel pasukan keamanan India berjaga di sebelah kawat berduri yang diletakkan di seberang jalan selama pembatasan setelah pemerintah menghapus status khusus untuk Kashmir, di Srinagar 7 Agustus 2019. [REUTERS / Danish Ismail]

    TEMPO.CO, Jakarta - Sudah empat bulan otoritas India melarang salat Jumat diadakan di masjid Jama, masjid terbesar etnis Muslim Kashmir di kota Srinagar.

    Larangan salat Jumat di masjid berusia 600 tahun terjadi sejak 5 Agustus lalu, ketika status otonomi khusus Kashmir dilucuti. Itu artinya 17 kali umat Muslim dilarang salat Jumat di masjid ini.

    Khalid Bashir Gura, 26 tahun, yang tinggal di Nowhatta, bersebelahan dengan lokasi masjid Jama, menuturkan, aparat menganggap pertemuan orang-orang Kashmir sebagai ancaman.

    "Setiap saat situasi bertambah buruk, masjid terbesar dilokasi mayoritas Muslim dalam tekanan selama berbulan-bulan," kata Gura seperti dilaporkan Al Jazeera, 10 Desember 2019.

    "Hak untuk menjalankan ibadah agama dijamin konstitusi. Namun hal itu dicederai kembali dan kembali di Kashmir."

    Imam masjid Jama, disapa Imam-e-Hai, Syed Ahmad Syed Naqashbandi mengatakan dirinya menjadi imam di masjid itu sejak tahun 1963. Dia menuturkan, pemblokiran masjid merupakan intervensi langsung terhadap agamanya.

    Menurut Naqashbandi, kehadiran aparat polisi dan pasukan paramiliter terus menerus di sekitar masjid merupakan ancaman terhadap masyarakat.

    Naqashbandi, 80 tahun, juga dipaksa untuk memimpin ibadah di satu masjid berjarak 5 kilometer dari lokasi masjid Jama.

    Menurut seorang komite pengurus masjid Jama, Syed Rahman Shams, larangan beribadah di masjid Jama bukan yang pertama kali.

    "Pada tahun 2016, masjid dikunci untuk 16 kali Jumatan. Rekor tersebut pecah tahun ini," kata Shams.

    Larangan serupa juga diberlakukan di masjid Baitul Mukaram di distrik Anantnag, di selatan Kashmir.

    Menurut Imtiyaz, 21 tahun, pemberlakuan jam malam sejak 5 Agustus lalu menjadi penyebabnya.

    "Karena jam malam berlaku setelah 5 Agustus, ana tidak diizinkan keluar rumah. Jadi bagaimana dapat ke masjid?" kata Imtiyaz.

    Awal Desember ini, otoritas India juga melarang digelar ibadah di Dargah Hazratbal, tempat suci umat Muslim di Kashmir. Ini belum pernah terjadi sebelumnya.

    Rambut Nabi Muhammad diyakini berada di dalam tempat suci itu. Lebih dari 50 ribu orang setiap tahun berkunjung ke tempat suci itu. Mereka berkunjung saat peringatan hari lahir nabi Muhammad.

    Selain melarang salat Jumat dan berkunjung ke tempat suci umat Muslim Kashmir, aparat India juga menangkapi lebih dari 5 ribu orang sejak 5 Agustus 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.