Raja Salman Beri Kewarganegaraan Arab Saudi untuk Inovator Asing

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Raja Salman dari Arab Saudi tiba di Mina pada Senin, 20 Agustus 2018 untuk awasi jalannya pelayanan ibadah haji 2018. SPA

    Raja Salman dari Arab Saudi tiba di Mina pada Senin, 20 Agustus 2018 untuk awasi jalannya pelayanan ibadah haji 2018. SPA

    TEMPO.CO, Jakarta - Raja Salman akan memberikan kewarganegaraan Arab Saudi kepada warga asing yang menciptakan inovasi dari berbagai bidang untuk menunjang Visi Arab 2030.

    Perubahan ini adalah bagian dari rencana reformasi ekonomi dan sosial Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mengganti ekonomi dari ketergantungannya pada minyak.

    Kewarganegaraan sulit diperoleh di negara Teluk karena tidak secara tradisional ditawarkan kepada orang asing dan ekspatriat yang tinggal di wilayah tersebut.

    Namun, Saudi Project, sebuah wadah pemerintah, menulis di Twitter bahwa Kerajaan Saudi bertujuan untuk menarik para ilmuwan, intelektual dan inovator dari seluruh dunia, untuk memungkinkan kerajaan menjadi pusat yang beragam.

    Ahli dalam ilmu forensik dan medis, teknologi, pertanian, energi nuklir dan terbarukan, minyak dan gas dan kecerdasan buatan akan dipertimbangkan, menurut laporan The National, 5 Desember 2019.

    Orang-orang yang terlibat dalam seni, olahraga, dan budaya juga dimasukkan dalam daftar untuk berkontribusi dan mendukung peningkatan kompetensi dan pengetahuan Saudi yang akan bermanfaat bagi masyarakat umum, kata Saudi Project.

    Warga negara Saudi biasanya menerima tunjangan ekonomi yang diperoleh dari pendapatan minyak yang besar.

    Undang-undang kewarganegaraan Saudi saat ini memungkinkan naturalisasi warga negara asing yang telah memiliki tempat tinggal permanen di kerajaan selama setidaknya lima tahun.

    Tetapi persyaratan sponsor Saudi telah membatasi orang asing yang tinggal di negara itu untuk mendapatkan tempat tinggal permanen.

    Gulfnews melaporkan, sejauh ini Arab Saudi telah memberikan 73 residensi asing di bawah program baru untuk menarik investasi luar negeri, dengan memungkinkan orang-orang tertentu untuk membeli properti dan melakukan bisnis tanpa sponsor Saudi.

    Kerajaan Arab Saudi menerima ribuan pengajuan setelah menawarkan tempat tinggal permanen untuk 800.000 riyal (Rp 3 miliar) atau izin satu tahun yang dapat diperbarui untuk 100.000 riyal (Rp 375 juta). Gelombang penerima pertama berasal dari 19 negara dan termasuk investor, dokter, insinyur, dan pemodal, menurut pernyataan Senin dari Premium Residency Centre pemerintah. Namun, tidak dirinci berapa banyak yang diberikan tempat tinggal permanen.

    Dekrit kerajaan menyatakan bahwa warga asing yang melamar kewarganegaraan dan memenuhi kriteria akan diberikan kewarganegaraan.

    Ekspatriat Yaman yang tinggal di kerajaan juga akan diberikan kewarganegaraan Saudi.

    Perintah itu juga mencakup anggota suku-suku terlantar di kerajaan dan penduduk yang merupakan keturunan orang tua Saudi yang tidak mendapatkan paspor ketika konsep kewarganegaraan diperkenalkan pada abad terakhir.

    Dekrit ini juga akan membantu menyelesaikan status anak-anak yang lahir dari ibu yang berkebangsaan Saudi tetapi ayah yang tidak.

    Langkah itu diusulkan hampir dua bulan lalu ketika Arab Saudi merasa perlu untuk menarik para sarjana, intelektual, dan spesialis terkemuka, yang sejalan dengan visi Kerajaan 2030.

    Bulan lalu, kerajaan mengeluarkan batch pertama dari visa tinggal "premium" untuk investor, dokter, insinyur atau pemodal yang ingin tinggal di kerajaan.

    Program ini menawarkan warga negara asing dan keluarga mereka visa jangka panjang dan hak istimewa yang sebelumnya tidak tersedia untuk orang non-Saudi.

    Kerajaan itu juga mengumumkan peluncuran visa turis baru pada bulan September yang akan memberi orang banyak entri ke negara itu.

    Dengan cara ini diharapkan Kerajaan Arab Saudi akan menciptakan satu juta pekerjaan baru untuk negara pada tahun 2030.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?