Krisis Venezuela Jadi Perdebatan di Kawasan

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hugo de Zela, Duta Besar Peru untuk Amerika Serikat. Sumber: Reuters

    Hugo de Zela, Duta Besar Peru untuk Amerika Serikat. Sumber: Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Organisasi negara-negara di benua Amerika atau OAS harus menghindari langkah-langkah ekstrim ketika menghadapi krisis di kawasan seperti runtuhnya perekonomian Venezuela. OAS dihimbau mempromosikan dialog. 

    Menurut Hugo de Zela, Duta Besar Peru untuk Amerika Serikat, OAS harus menjadi lembaga yang mendorong agar masalah diselesaikan lewat dialog antar fraksi-fraksi yang berbeda. De Zela adalah diplomat Peru yang maju dalam pemilihan Sekjen OAS melawan calon incumben Luis Almargo, yang maju lagi untuk periode kedua. Masa jabatan periode pertama Almargo akan berakhir Mei 2020. 

    “Jika OAS menempatkan diri dalam posisi ekstrim, maka organisasi itu akan berhenti menyelesaikan masalah secara efektif dan malah menjadi bagian dari masalah. Hal ini tidak boleh terjadi,” kata deZela     

    Hugo de Zela, Duta Besar Peru untuk Amerika Serikat. Sumber: Reuters.

    Runtuhnya ekonomi Venezuela dan krisis politik di negara itu telah menggiring Venezuela pada kekurangan pasokan bahan makanan, obat-obatan dan eksodus masyarakat besar-besaran. Kondisi Venezuela telah mendominasi topik pertemuan-pertemuan OAS, dimana beberapa negara anggota OAS mengecam Presiden Venezuela Nicolas Maduro sebagai seorang diktator, namun ada pula yang mendukungnya. 

    Sedangkan Almargo yang berasal dari Uruguai dan maju lagi dalam pemilihan kursi Sekjen OAS, dengan dukungan dari Amerika Serikat, Kolombia dan Brazil. Dia telah berusaha menaikkan tekanan pada Maduro, termasuk menolak untuk menghapus penggunaan kekuatan militer dalam melawan pemerintahan Maduro pada tahun lalu. 

    “Di Venezuela, ada sebuah interupsi dalam proses demokrasi. Ini menjadi bukti kalau rezim Maduro kurang terlegitimasi dan hal ini belum didisikusikan, namun saat yang sama ada promosi gencar agar digunakan kekuatan militer dalam menyelesaikan krisis di Venezuela, padahal hal ini tidak membantu. Maka ini sama dengan menempatkan kita dalam sebuah langkah ekstrim,” kata de Zela, seperti dikutip dari reuters.com.   

    Dia mengatakan penggunaan kekuatan militer untuk menyelesaikan masalah di Venezuela bukan sebuah kontribusi efektif atau kontribusi yang realistis. Venezuela harus menyelesaikan masalahnya sendiri dengan cara dialog dan menyelenggarakan pemilu yang bebas serta adil.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.