RUU Uighur Disetujui, Negosiasi Perang Dagang AS - Cina Terancam

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bendera Republik Rakyat Cina dan bendera AS berkibar di tiang lampu di sepanjang jalan Pennsylvania Avenue dekat Capitol AS selama kunjungan kenegaraan Presiden China Hu Jintao, di Washington, DC, Amerika Serikat, 18 Januari 2011.[REUTERS/Hyungwon Kang]

    Bendera Republik Rakyat Cina dan bendera AS berkibar di tiang lampu di sepanjang jalan Pennsylvania Avenue dekat Capitol AS selama kunjungan kenegaraan Presiden China Hu Jintao, di Washington, DC, Amerika Serikat, 18 Januari 2011.[REUTERS/Hyungwon Kang]

    TEMPO.CO, Jakarta - Cina memperingatkan bahwa seruan dari anggota parlemen Amerika Serikat agar memperketat sikap terhadap Beijing terkait kondisi etnis minoritas Uighur, hanya akan berdampak pada hubungan kerjasama kedua negara. Gertakan Beijing itu merupakan awan kelabu dalam upaya mengakhiri perang dagang kedua negara. 

    Dikutip dari reuters.com, peringatan Cina yang dikeluarkan pada Rabu, 4 Desember 2019, setelah anggota DPR Amerika Serikat menyetujui rancangan undang-undang Uighur Act 2019. Kendati sudah disetujui, namun aturan itu masih harus disetujui oleh anggota Partai Republik yang menguasai senat yang kemudian akan dikirim ke Presiden Amerika Serikat Donald Trump. 

    Rancangan undang-undang Uighur Act 2019 yang diloloskan anggota Partai Demokrat di DPR Amerika Serikat mendesak Presiden Trump agar mengeluarkan pernyataan mengutuk kekerasan terhadap etnis Uighur dan menyerukan agar kamp-kamp penahanan massal di wilayah barat Xinjiang, ditutup. 

    Rancangan undang-undang Uighur Act 2019 juga mendesak Trump agar menjatuhkan sanksi untuk pertama kali pada anggota politburo Cina yang juga Sekertaris Partai Komunis Cina untuk wilayah Xinjiang, Chen Quanguo. Beijing menyerukan rancangan undang-undang ini adalah sebuah serangan pada negara itu dan menuntut agar rancangan undang-undang itu tidak menjadi sebuah hukum. Cina akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi membela kepentingannya jika diperlukan. 

    Langkah Amerika Serikat itu telah memantik kemarahan Beijing dan menodai hubungan kedua negara yang sudah terkoyak. Beberapa sumber mengatakan rancangan undang-undang Uighur Act 2019 bisa membahayakan kesepakatan dagang Amerika Serikat – Cina yang selama ini penuh dengan perselisihan. 

    Sebelumnya pada Selasa 2 Desember 2019, Presiden Trump mengatakan pihaknya mungkin akan mengunci kesepakatan dengan Cina  selambatnya tahun 2020. Dengan pemberlakuan tarif baru oleh Amerika Serikat terhadap barang-barang asal Cina, maka dampaknya akan dirasakan kurang dua pekan lagi.      

    Uighur adalah kelompok etnis minoritas di Cina yang penduduknya beragama Islam. Etnis ini diduga telah ditindas oleh Beijing. 

    “Menurut Anda jika Amerika melakukan tindakan yang menciderai kepentingan Cina kami tidak akan mengambil langkah apapun? Saya rasa setiap kata-kata dan perbuatan yang salah harus ada harganya,” kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying.   

    Tim negosiator dari kedua negara terus bekerja sama agar bisa mengunci kesepakatan dagang. Namun sumber mengatakan dua kubu masih belum satu suara soal detail kesepakatan, diantaranya apakah tarif Amerika Serikat terhadap barang-barang Cina akan dihapus dan berapa banyak produk pertanian Amerika Serikat yang akan dibeli Cina.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.