Indonesia Dukung Inisiatif Fokus ke Laut

Reporter:
Editor:

Anton Aprianto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandangan es yang mencair di Kangerlussuaq, Greenland, 1 Agustus 2019. Seorang ilmuwan iklim di Danish Meteorological Institute menyatakan bahwa area lapisan es Greenland telah menunjukkan indikasi lelehan setiap hari dan mencapai rekor tahun itu hingga 56,6 persen pada Rabu (31/7) lalu. CASPAR HAARLOEV VIA REUTERS

    Pemandangan es yang mencair di Kangerlussuaq, Greenland, 1 Agustus 2019. Seorang ilmuwan iklim di Danish Meteorological Institute menyatakan bahwa area lapisan es Greenland telah menunjukkan indikasi lelehan setiap hari dan mencapai rekor tahun itu hingga 56,6 persen pada Rabu (31/7) lalu. CASPAR HAARLOEV VIA REUTERS

    TEMPO.CO, Madrid - Delegasi Republik Indonesia menyatakan mendukung inisiatif Chile untuk fokus ke laut dalam usaha menurunkan emisi karbon. Dalam konferensi Perubahan Iklim COP25 di Madrid, Spanyol, Chile mencanangkan gerakan biru, merujuk pada lautan. “Indonesia telah mendukung gerakan ini, sejak Chile mengkampanyekannya di Bonn, Juni lalu,” kata Ruandha Agung Sugardiman, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang memimpin tim negosiator Indonesia pada COP25, Senin 2 Desember 2019 sore waktu setempat.

     

    Lautan disebut telah menyerap 93 persen dari efek gas rumah kaca sejak 1970-an. Di sisi lain, peningkatan suhu air telah mengubah sirkulasi laut secara drastis. Arus laut membawa panas dari daerah tropis ke Kutub, turun ke laut dalam, menentukan pola curah hujan dan suhu permukaan. Semua ini pada gilirannya mempengaruhi iklim global. Caroline Schmidt, Menteri Lingkungan Chile yang memimpin konferensi, menyatakan perlunya negara-negara memberi perhatian ke laut. “COP25 harus menjadi COP yang biru,” kata dia dalam pidato setelah menerima kepemimpinan dari Presiden COP sebelumnya, Michal Kurtyika dari Polandia.

     

    Ruandha menyebutkan, Indonesia yang 80 persen wilayahnya terdiri dari laut sangat berkepentingan dengan inisiatif Chile yang juga telah didukung 30-an negara termasuk Inggris. Menurut dia, efek lautan dalam menurunkan emisi memang belum didukung penelitian saintifik. Karena itu, ia menambahkan, jika inisiatif ini disetujui, negara-negara peserta COP harus mengalokasikan anggaran untuk penelitian. “Ini kesempatan bagi kita mendapatkan dana dari dunia internasional,” ujarnya.

     

    Pemimpin juru runding itu menambahkan, lautan merupakan sumber pangan dan energi masa depan. Namun, agar kekayaan itu bisa bertahan, ia mengingatkan, suhu airnya harus terus dijaga. Setiap kenaikan permukaan air laut, ada jenis ikan yang terancam. Dalam kaitan inilah, inisiatif “kembali ke laut” relevan dengan pengendalian perubahan iklim.

     

    Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aloe Dahong menyatakan, penelitian secara parsial tentang laut dalam kaitannya dengan perubahan iklim sebenarnya sudah ada. Misalnya, kata dia, yang berkaitan dengan terumbu karang. “Memang perlu penelitian lebih lanjut untuk lautan ini,” kata dia. 

     

    Usaha menurunkan emisi selama ini lebih fokus ke hutan. Salah satu yang terpenting  —tapi sekaligus masih menjadi perdebatan di antara negara-negara peserta COP— dari kesepakatan Paris pada 2015 adalah perdagangan karbon. Dalam konsep ini, negara-negara yang bisa mempertahankan emisi di bawah batas tertentu bisa menjual sisanya ke negara lain yang telah melewati angka itu. Namun, mekanisme lebih lanjut perdagangan masih belum disepakati. 

     

    Inisiatif “fokus ke laut” disiapkan oleh Chile, yang sebenarnya menjadi tuan rumah konferensi tahunan ini. Tahun ini memang giliran Amerika Latin untuk menyelenggarakan COP. Chile membatalkan acara ini akibat gejolak politik di negara itu dalam beberapa bulan terakhir. Spanyol dalam waktu singkat menawarkan diri menjadi tuan rumah dan disetujui.

     

    COP25 ini disebut sebagai konferensi yang strategis karena tahun depan mulai pelaksanaan Perjanjian Paris. Dihadiri perwakilan hampir 200 negara, konferensi ini menegaskan komitmen yang lebih ambisius dalam mengendalikan perubahan iklim. Negara-negara telah bersepakat menurunkan emisi global 7,6 persen per tahun selama sepuluh tahun hingga 2030. Tujuannya membatasi suhu agar tidak naik melampaui 1,5 derajat Celcius. “Saatnya berpaling ke laut dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim,” kata Caroline Schmidt.

     

    Budi Setyarso (Madrid)

     
     
     
     
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Modus Sejumlah Kepala Daerah dan Pejabat DPD Cuci Uang di Kasino

    PPATK menyingkap sejumlah kepala daerah yang diduga mencuci uang korupsi lewat rumah judi. Ada juga senator yang melakukan modus yang sama di kasino.