Misteri Pembunuhan Jurnalis Malta dengan Bom Mobil Terbongkar

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Daphne Caruana Galizia menjalankan sebuah blog yang sangat populer dimana dia terus-menerus menyoroti kasus-kasus dugaan korupsi tingkat tinggi oleh para politisi dari berbagai partai. REUTERS

    Daphne Caruana Galizia menjalankan sebuah blog yang sangat populer dimana dia terus-menerus menyoroti kasus-kasus dugaan korupsi tingkat tinggi oleh para politisi dari berbagai partai. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Misteri pembunuhan jurnalis investigasi Malta, Daphne Caruana Galizia, semakin mendapat titik terang.

    Suatu hari di musim panas 2017, Vince Muscat mengantar temannya Alfred Degiorgio ke Busy Bee, sebuah kafe di depan pelabuhan dekat ibu kota Malta yang terkenal dengan kue-kue yang diisi dengan keju ricotta. Degiorgio tidak tinggal lama.

    Beberapa menit kemudian, dia masuk kembali ke mobil untuk melaporkan ke Muscat bahwa mereka memiliki kontrak: Untuk membunuh jurnalis senior Malta, Daphne Caruana Galizia.

    Daphne diledakkan oleh bom mobil pada 16 Oktober 2017. Pembunuhan itu mengejutkan Eropa dan mengungkapkan betapa terancamnya pers di pulau itu. Selama bertahun-tahun Daphne menjalankan sebuah blog populer yang terkenal karena pendapat politiknya yang keras dan tuduhan korupsi. Karenanya, Daphne memiliki banyak musuh.

    Dikutip dari Reuters, 29 November 2019, ini adalah kesaksian yang sebelumnya tak terhitung dari rencana untuk membunuh Daphne. Kontrak pembunuhan Daphne senilai 150.000 euro. Muscat mengungkapkan hal ini kepada polisi pada April 2018, dengan harapan mendapat pengampunan. Rincian dari pengakuannya diteruskan kepada Reuters tahun lalu tetapi tidak dipublikasikan sampai sekarang untuk menghindari gangguan penyelidikan.

    Perdana Menteri Joseph Muscat (tidak ada hubungan dengan pelaku) sejauh ini menolak permintaan pengampunan Vince Muscat, bahkan ketika ia memberikan pengampunan dan kekebalan dari penuntutan kepada tokoh lain dalam plot, seorang sopir taksi bernama Melvin Theuma. Theuma telah mengakui kepada polisi bahwa dia bertindak sebagai perantara antara pembunuh dan orang yang memerintahkan pembunuhan Daphne. Dia telah dibebaskan di bawah perlindungan polisi, menurut sumber kepolisian, dan dijadwalkan untuk bersaksi di pengadilan minggu depan.

    "Ini adalah ketidakadilan total bahwa Theuma harus memberikan bukti terhadap Vince ketika Vince adalah orang yang memimpin polisi kepadanya dan membantu menyelesaikan kasus ini. Dia adalah orang yang harus diampuni, bukan Melvin," kata Pauline Muscat, istri Vince, berbicara di depan umum untuk pertama kalinya.

    Namun para pejabat mengatakan Theuma ditangkap pada 14 November sebagai bagian dari penyelidikan terpisah terhadap perjudian ilegal. Setelah penahanannya, ia menawarkan informasi tentang pembunuhan Daphne dan memberikan bukti yang mengarah pada penangkapan enam hari kemudian dari Yorgen Fenech, salah satu pengusaha terkemuka Malta, kata mereka. Fenech sedang diperiksa oleh polisi. Pengacara Fenech menolak berkomentar dan pengacara Theuma tidak menanggapi permintaan komentar.

    Daphne Caruana Galizia, wartawan asal Malta yang tewas dibunuh dalam sebuah bom mobil. Sumber: Sky News

    Penangkapan pertama dalam penyelidikan terjadi pada 3 Desember 2017 ketika Muscat dan dua orang yang diduga kaki tangannya, saudara laki-laki Alfred dan George Degiorgio, didakwa dengan pembunuhan Daphne. Ketiganya membantah tuduhan itu. Setelah pemeriksaan pendahuluan yang panjang, mereka didakwa pada bulan Juli untuk diadili oleh juri pada tanggal mendatang yang belum ditentukan.

    Muscat, yang dikenal polisi atas pelanggaran ringan, termasuk mengimpor burung, setuju untuk memberi kesaksian pada April 2018 setelah polisi mengatakan pernyataannya hanya akan digunakan sebagai bukti jika Muscat mendapat pengampunan. Muscat mengatakan kepada polisi bahwa para pembunuh itu dibayar 150.000 euro (Rp 2,4 miliar) untuk membunuh Daphne, dengan 30.000 euro (Rp 466 juta) diberikan sebagai uang muka. Mereka menggunakan bom yang dibeli dari gangster Malta dan dipasok oleh mafia Italia.

    Polisi mengatakan mereka percaya Muscat adalah kaki tangan George Degiorgio, yang dikenal dengan julukan "Ic-Ciniz" (orang Cina), pemimpin kelompok kejahatan terorganisir. Alfred Degiorgio, yang dikenal sebagai "Il-Fulu" (the Bean), adalah anggota geng yang sama, menurut polisi. kakak adik itu terus menyangkal pembunuhan Daphne dan menolak menjawab pertanyaan polisi. Marc Sant, seorang pengacara yang membela Vince Muscat, menolak berkomentar, demikian pula pengacara untuk kedua bersaudara itu.

    Detik-detik pemasangan bom mobil


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.