Dapat Penghargaan dari Timor Leste, Siapa Wartawan Max Stahl

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Max Stahl, wartawan asal Inggris mendapat penghargaan dari Timor Leste. Sumber: Pacific Scoop

    Max Stahl, wartawan asal Inggris mendapat penghargaan dari Timor Leste. Sumber: Pacific Scoop

    TEMPO.CO, Jakarta - Max Stahl, wartawan asal Inggris pada 21 November lalu mendapat penghargaan Order of Liberty Necklace, yakni penghargaan tertinggi yang diberikan kepada seorang warga negara dari Pemerintah Timor Leste

    Stahl dinilai berjasa telah memfilmkan pembantaian Santa Cruz pada 12 November 1991. Gambar yang diambil Stahl dinilai telah banyak berkontribusi pada perubahan sikap dan membantu masyarakat internasional memahami demonstrasi tanpa rasa takut dari kaum muda Timor Leste.

    Christopher Wenner, yang kemudian dikenal sebagai Max Stahl, memulai hubungannya dengan Timor-Leste pada 30 Agustus 1991 ketika, "menyamar sebagai turis" memasuki wilayah itu untuk membuat film dokumenter untuk sebuah televisi independen Inggris.

    Setelah diinterogasi 9-10 jam di kantor polisi Comoro, Max kembali malam itu ke pemakaman Santa Cruz, mempertaruhkan nyawanya untuk mengambil kaset yang terkubur di kuburan Santa Cruz. Kaset itu di beri kepada Saskia Kowenberg warga negara Belanda. Gambar yang diambil Stahl itu disiarkan beberapa hari kemudian di seluruh dunia.

    Max Stahl, wartawan asal Inggris mendapat penghargaan dari Pemerintah Timor Leste. Sumber: wikipedia.org

    Stahl adalah wartawan dan pembuat film dokumenter. Dia lahir di Inggris pada 6 Desember 1954.

    Stahl terlahir di keluarga diplomat. Nenek dari pihak ibu adalah seorang diplomat Swedia, yang memiliki hak istimewa untuk menjadi Direktur Lembaga Nobel selama lebih dari dua puluh tahun. Ia tumbuh dengan tiga saudara laki-laki. Ayah Stahl, Christopher Max Stahl Wenner, adalah seorang diplomat Swiss. Sedang ibu Stahl adalah seorang warga negara Prancis.

    Selain berasal dari keluarga diplomat, Stahl dan saudara-saudaranya berhubungan dengan masalah internasional dan pindah dari satu negara ke negara lain - Bolivia, El Salvador, Austria dan Inggris.

    Stahl belajar Sastra di Universitas Oxford di Inggris. Dia fasih berbahasa Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Italia, dan Portugis.

    Stahl memulai karirnya sebagai penulis teater pada program televisi anak-anak di Inggris. Dia terjun menjadi wartawan ketika ia tinggal bersama keluarganya di El Salvador, negara saat ayahnya menjabat sebagai duta besar.

    Dia mulai menulis laporan tentang perang saudara di sana yang berlangsung pada 1979 hingga 1992. Dia kemudian pergi ke Chechnya, Georgia, Yugoslavia, dan Timor-Leste.

    Dia mengalami banyak pengalaman pahit selama tugasnya. Dia pernah ditangkap, menyaksikan kematian rekan-rekannya, menderita kesengsaraan dengan gerilyawan di semak-semak dan menyaksikan genosida, seperti dalam Pembantaian Pemakaman Santa Cruz pada 1991.

    Dia dianugerahi beberapa hadiah, terutama Penghargaan Rory Peck, yang diberikan kepada operator kamera yang mengancam jiwa dalam pelaporan.

    Stahl tiba di Timor Leste pertama kali pada 30 Agustus 1991 sebagai turis. Selama berada di sana, ia mewawancarai beberapa pemimpin dan gerilyawan Front Klandestin, termasuk Komandan David Alex "Daitula", Nino Konis Santana, dan tokoh lainnya.

    Dalam melestarikan sejarah perjuangan rakyat Timor-Leste, Stahl telah secara independen menciptakan dan mengelola Pusat Audiovisual Max Stahl di Timor-Leste (CAMSTL), di mana ia mencatat beberapa peristiwa bersejarah yang dikumpulkan selama 25 tahun terakhir. Semua arsip ini telah dianggap oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai "Memori Daftar Dunia".

    Untuk tujuan pendidikan dan penelitian, CAMSTL telah bekerja sama dengan Universitas Coimbra di Portugal untuk mengarsipkan dokumen bersejarah Timor Leste dalam format digital.


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Ahok dalam Empat Nama Kandidat Kepala Otorita Ibu Kota Negara Baru

    Nama Ahok sempat disebut dalam empat nama kandidat kepala otorita Ibu Kota baru. Siapa tiga nama lain yang jadi calon pengelola IKN Nusantara?