Kelompok Aktivis Uighur Klaim Ada 500 Lebih Kamp Tahanan Xinjiang

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Upacara pembukaan kamp pusat reedukasi Uighur di kota Korla provinsi Xinjiang, Cina. {RFA]

    Upacara pembukaan kamp pusat reedukasi Uighur di kota Korla provinsi Xinjiang, Cina. {RFA]

    TEMPO.CO, Jakarta - Kelompok hak asasi manusia Uighur mengatakan bahwa Cina memiliki 500 lebih pusat penahanan, penjara, dan apa yang disebut kamp pendidikan ulang di wilayah otonom Xinjiang di bagian utara Cina.

    Turkistan National Awakening Movement yang berbasis di Washington merilis temuan ini pada hari Selasa dari penelitian selama setahun ke jaringan kamp, penjara, dan pendidikan ulang yang digunakan Cina untuk mengendalikan populasi etnis Muslim Xinjiang, seperti dilaporkan Business Insider, 19 November 2019. Kelompok hak asasi manusia mengadvokasi kemerdekaan Turkistan Timur.

    Para peneliti di kelompok itu mengidentifikasi 465 pusat di Xinjiang, termasuk 182 yang diyakini sebagai Kamp Konsentrasi, 209 penjara, dan 74 kamp kerja paksa Bingtuan, menggunakan citra satelit dari Google Earth.

    Menurut kelompok itu, di Xinjiang, orang-orang yang mayoritas Muslim Xinjiang dan etnis Turki menghadapi penahanan massal yang tak terlihat sejak zaman Holocaust.

    Anders Corr, seorang mantan analis intelijen AS yang memberikan saran untuk kelompok itu pada penelitian mereka, mengatakan bahwa 40 persen dari situs yang ditemukan tidak diungkapkan sebelumnya kepada publik.

    Pada 16 November, New York Times mempublikasikan Xinjiang Papers, sebuah dokumen internal Partai Komunis Cina yang mengungkapkan bagaimana pemerintah membuat program penahanan massal di Xinjiang.

    "Mereka ada di sekolah pelatihan yang didirikan oleh pemerintah," tulis dokumen panduan kepada para pejabat untuk jawaban ketika memberi tahu siswa bahwa kerabat mereka bukan penjahat, terkait penahanan massal di Xinjiang. Dokumen internal rahasia ini dibocorkan oleh New York Times, 16 November 2019, dalam laporan "The Xinjiang Papers".[New York Times]

    Dokumen setebal 400 lebih halaman yang diterbitkan oleh New York Times merupakan salah satu kebocoran data terbesar dari dalam pemerintah Cina.

    dokumen-dokumen itu dibocorkan oleh anggota lembaga politik Cina yang ingin memastikan Xi dan pejabat senior partai lainnya tidak luput dari kesalahan karena kebijakan tersebut.

    Menurut laporan CNN, 19 November 2019, berbicara dalam konferensi pers hariannya pada Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Geng Shuang tidak menyangkal apakah dokumen itu asli atau tidak, tetapi menuduh wartawan New York Times melakukan kesalahpahaman disengaja.

    "New York Times menggunakan tambal sulam dan distorsi dengan membesar-besarkan atas apa yang disebut 'dokumen internal' dan mencoreng upaya kontra-terorisme dan deradikalisasi Cina. Apa yang mereka lakukan?" katanya.

    Para peserta didik kamp pendidikan vokasi etnis Uighur di Kota Kashgar, Daerah Otonomi Xinjiang, Cina, belajar menjahit pakaian, Jumat, 4 Januari 2019. Peserta dapat lulus dari kamp ini ketika mereka dinilai telah mencapai tingkat tertentu dengan bahasa Mandarin, deradikalisasi, dan pengetahuan hukum mereka. ANTARA/M. Irfan Ilmie

    Cina sebelumnya telah menyangkal keberadaan kamp-kamp ini tetapi tahun lalu menyebutnya sebagai pendidikan keujuran pemerintah.

    Ketua pemerintah Xinjiang Shohrat Zakir mengatakan kepada kantor berita pemerintah Cina, Xinhua tahun lalu bahwa tujuan kamp adalah untuk menyingkirkan lingkungan yang menghasilkan terorisme dan ekstremisme agama.

    Dia juga mengatakan kamp menyediakan pelatihan membuat pakaian dan alas kaki, merakit produk elektronik, dan tata rambut.

    Tetapi mantan tahanan di kamp itu telah melukiskan gambaran yang sama sekali berbeda, salah satu dari penyiksaan fisik dan psikologis dan penindasan agama.

    Dua warga Uighur yang berada di dalam kamp-kamp itu mengatakan tahun lalu tentang kengerian yang terjadi di balik tembok-tembok yang dijaga ketat di pusat-pusat penahanan.

    Seorang pria mengaku telah dibelenggu ke kursi, dilarang tidur, dan dipukuli oleh polisi di kampnya.

    "Mereka memiliki tongkat kayu dan karet yang tebal, cambuk yang terbuat dari kawat bengkok, jarum untuk menembus kulit, tang untuk mencabut kuku Anda," katanya.

    Seorang pria lain mengatakan orang-orang dipaksa untuk menyanyikan lagu-lagu pro Cina untuk mendapatkan makanan, dan mengatakan orang-orang yang dia kenal baik muncul dengan keadaan psikologis yang berubah.

    Rekaman drone bocor yang diunggah secara anonim ke YouTube bulan lalu tampaknya menunjukkan ratusan tahanan pria di Xinjiang, diikat dan mengenakan penutup mata. Dan warga Xinjiang di bawah pengawasan puluhan ribu kamera pengenal wajah dan aplikasi pengintai di ponsel mereka, menurut laporan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.