Presiden Putin Bandingkan Bolivia dan Libya

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu untuk membahas insiden baru-baru ini dengan kapal selam laut dalam Rusia, yang terbakar di wilayah Laut Barents, di Moskow, Rusia 4 Juli 2019. [Sputnik / Mikhail Klimentyev / Kremlin via REUTERS]

    Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu untuk membahas insiden baru-baru ini dengan kapal selam laut dalam Rusia, yang terbakar di wilayah Laut Barents, di Moskow, Rusia 4 Juli 2019. [Sputnik / Mikhail Klimentyev / Kremlin via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Kevakuman yang terjadi di Bolivia telah membawa negara di Amerika Latin itu di jurang kehancuran seperti bencana yang terjadi di Libia. Presiden Rusia Vladimir Putin mendesak pemimpin di negara-negara Amerika Latin agar menggunakan akal sehat menyusul ketegangan politik dan keamanan di kawasan itu.   

    Mantan Presiden Bolivia, Evo Morales, pada Selasa, 12 November 2019, sudah berlindung ke Meksiko setelah para pemimpin oposisi di negaranya mendeklarasikan hasil pemilu pada Oktober 2019 yang memenangkan Morales penuh penipuan. Kepolisian dan militer Bolivia mengkudetanya. 

    Sejak kepergian Morales, Senat oposisi, Jeanine Anez, mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara Bolivia tanpa pemungutan suara atau pengakuan dari Partai Gerakan Sosialis, partai yang menggolkan Morales ke kursi kekuasaan. Terdongkelnya Morales dari kursi kekuasaan telah membuat para pendukungnya marah. Kondisi ini telah memicu terjadinya kerusuhan dengan aparat kepolisian di jalan-jalan utama Ibu Kota La Paz.   

    “Ada sebuah situasi dimana tidak ada kepemimpinan di negara sehingga terjadi anarki. Ini seperti mirip dengan yang terjadi di Libya. Kendati tidak ada invasi militer dari luar negara, namun negara ini sebenarnya diambang kekacauan,” kata Presiden Putin, seperti dikutip dari rt.com, Jumat, 15 November 2019. 

    Pemimpin Libya Muammar Gaddafi, disiksa dan dibunuh oleh kelompok pemberontak pada 2011. Kematiannya telah membuat negara terkaya di benua Afrika itu terperosok dalam kekacauan, dimana cadangan minyak negara itu yang melimpah sekarang menjadi perebutan fraksi-fraksi militer. Pasokan kebutuhan dasar di Lybia juga berkurang.      

    “Kami berharap akal sehat dan pemahaman atas kepentingan rakyat di negara-negara ini (Amerika Latin), menjadi tanggung jawab seluruh warga negara, dimana hal ini akan mengalahkan ambisi pribadi atau ambisi partisan,” kata Putin. 

    Presiden Putin sudah lama mengkritik Washington yang dituding ikut campur tangan terhadap urusan Amerika Latin atau yang disebut Monroe doktrin. Washington diduga mendukung oposisi Bolivia dan Presiden Putin menyarankan agar Barat mundur serta membiarkan warga negara Amerika Latin menyelesaikan masalahnya sendiri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.