Unjuk Rasa Lebih dari 5 Bulan, Hong Kong Terancam Resesi Ekonomi

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah poster bergambarkan Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam di jalanan yang dibangun barikade oleh demonstran di pusat bisnis di Hong Kong, 13 November 2019. REUTERS/Shannon Stapleton

    Sebuah poster bergambarkan Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam di jalanan yang dibangun barikade oleh demonstran di pusat bisnis di Hong Kong, 13 November 2019. REUTERS/Shannon Stapleton

    TEMPO.CO, Jakarta - Hong Kong diperkirakan akan jatuh dalam resesi untuk pertama kali dalam 10 tahun. Proyeksi ini muncul di tengah-tengah gelombang unjuk rasa anti-pemerintahan yang sudah berlangsung berbulan-bulan dan semakin memburuk. 

    Dikutip dari reuters.com, angka yang dipublikasi pada Oktober 2019 memperlihatkan perekonomian Hong Kong turun 3,2 persen pada Juli – September 2019 di banding periode sama tahun sebelumnya. Sejumlah analis memperkirakan unjuk rasa dengan kekerasan yang belum memperlihatkan tanda akan segera berakhir bisa membuat perekonomian Hong Kong terperosok lebih dalam dengan turunnya PDB pada kuartal ini dan tahun depan.

     

    Hong Kong berada dalam tekanan menyusul perang tarif antara Beijing – Washington. Namun unjuk rasa yang kerap kali diikuti kekerasan, sudah berlangsung lebih dari lima bulan dan sudah membawa penurunan pada perekonomian Hong Kong.

    “Kami berasumsi unjuk rasa dengan kekerasan di Hong Kong masih akan berlanjut hingga tahun 2020, kecuali pemerintah Hong Kong melakukan sesuatu yang khusus demi mengakhiri unjuk rasa ini, yang seperti sulit dihindari,” kata Iris Pang, ekonom dari ING, yang memprediksi ekonomi Hong Kong terpuruk sampai 2,2 persen pada 2019 dan 5,3 persen pada 2020.         

    Seringnya muncul gangguan pada sistem transportasi, kekerasan antara polisi dan para demonstran serta penggunaan gas air mata telah mengguncang sektor retail serta membuat takut para turis, khususnya mereka yang dari Cina. 

    Agustus 2019 telah menjadi pukulan paling telak bagi sektor retail dimana penjualan menyentuh rekor terburuk, yakni turun 23 persen dibanding tahun lalu. Sedangkan pada September turun 18,3 persen. 

    Toko-toko, restoran dan sektor bisnis lainnya di penjuru Hong Kong banyak yang tutup lebih cepat saat unjuk rasa berlangsung. Sejumlah toko - toko kecil bahkan harus tutup sepenuhnya demi kebaikan mereka sendiri.

    Mal – mal dekat pusat keuangan Hong Kong yang menjual merek-merek ternama asal luar negeri terpaksa ditutup menyusul ketegangan, tembakan gas air mata yang membumbung hingga ke angkasa saat jam makan siang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Modus Sejumlah Kepala Daerah dan Pejabat DPD Cuci Uang di Kasino

    PPATK menyingkap sejumlah kepala daerah yang diduga mencuci uang korupsi lewat rumah judi. Ada juga senator yang melakukan modus yang sama di kasino.