KBRI Malaysia Jelaskan Penyebab Tewasnya WNI saat Antre Paspor

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah Buruh Migran Wanita berada di penampungan Tenaga Kerja Indonesia di KBRI, Kuala Lumpur, Malaysia, 30 Juni 2016. Tidak punya bekal pendidikan yang memadai, dan pengalaman yang minim, membuat Warga Indonesia kerap menjadi korban oknum untuk bisa memasuki mereka ke negara lain secara tidak sah (ilegal) untuk mengadu nasib menjadi tenaga kerja. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    Sejumlah Buruh Migran Wanita berada di penampungan Tenaga Kerja Indonesia di KBRI, Kuala Lumpur, Malaysia, 30 Juni 2016. Tidak punya bekal pendidikan yang memadai, dan pengalaman yang minim, membuat Warga Indonesia kerap menjadi korban oknum untuk bisa memasuki mereka ke negara lain secara tidak sah (ilegal) untuk mengadu nasib menjadi tenaga kerja. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    TEMPO.COJakarta - Seorang warga negara Indonesia bernama Tamam bin Arsad, ditemukan meninggal dunia di trotoar depan Kantor Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur, Malaysia pada Kamis, 31 Oktober 2019.

    Rilis kementerian Luar Negeri yang diterima Tempo menjelaskan Tamam, yang berasal dari Bawean, Jawa Timur, meninggal akibat sakit jantung.

    Saat itu, almarhum sedang menunggu di trotoar di depan kantor KBRI pada pukul 18.45 pada Kamis, 31 Oktober 2019.

    "Berdasarkan hasil pemeriksaan di Rumah Sakit KL, dan riwayat kesehatan yang dibawa istri dan keluarga almarhum, Tamam menderita penyakit jantung kronis," begitu pernyataan KBRI Kuala Lumpur dalam siaran pers, Jumat, 1 November 2019.

    Ini berarti jasad almarhum tidak perlu diotopsi dan dapat langsung dibawa pulang untuk dimakamkan di Selangor, Malaysia.

    “Saat terjadi serangan jantung, almarhum berada di luar premis KBRI dalam situasi lengang dan bukan dalam situasi antrean panjang yang berdesak-desakan,” begitu penjelasan KBRI lewat rilis.

    Warga yang ikut mengantre pada saat kejadian kemudian  menidurkan almarhum. Pihak KBRI lalu menghubungi polisi Malaysia dan petugas medis, serta keluarga Tamam.

    Tamam dan istri telah tinggal di Malaysia selama puluhan tahun. Dia bekerja di bidang konstruksi. Dia memiliki tiga orang anak, yang telah dewasa dan menjadi warga negara Malaysia.

    KBRI juga menjelaskan setiap hari menerbitkan sekitar 800 paspor. Jumlah ini selalu meningkat setiap ada program pemutihan dari pemerintah Malaysia. Untuk bisa melayani jumlah WNI yang cukup banyak, KBRI membuat layanan bukan 24 jam sejak Oktober 2017.

    “Sebelumnya banyak pemohon yang datang dari jauh terpaksa harus bermalam dan tidur di trotoar depan KBRI untuk menunggu bukanya pintu pada pagi hari,” begitu penjelasan KBRI.

    ANDITA RAHMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.