Justin Trudeau Belum Tertarik Bentuk Pemerintahan Koalisi

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan Walikota Toronto John Tory, mengikuti parade LGBT atau Gay Pride di Toronto, Ontario, Kanada, 23 Juni 2019. Acara ini digelar komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) untuk mengenang peristiwa Stonewall yang terjadi di New York, Amerika Serikat, pada Juni 1969.  REUTERS/Chris Helgren

    Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan Walikota Toronto John Tory, mengikuti parade LGBT atau Gay Pride di Toronto, Ontario, Kanada, 23 Juni 2019. Acara ini digelar komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) untuk mengenang peristiwa Stonewall yang terjadi di New York, Amerika Serikat, pada Juni 1969. REUTERS/Chris Helgren

    TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, yang raihan suaranya turun dalam pemilu 2019, pada Rabu kemarin mengatakan akan merangkul semua lawan politiknya. Namun saat yang sama, dia mengesampingkan gagasan membentuk pemerintahan koalisi.

    Dalam pemilu Senin 21 Oktober 2019, Partai Liberal kehilangan mayoritas suara di parlemen sehingga harus bergantung pada pihak lain agar bisa menjalankan pemerintahan. Sekutu utama Trudeau telah kehilangan kursi dan kelompok liberal tersapu bersih di dua provinsi di wilayah barat Kanada yang memicu lebih banyak ketegangan pada persatuan nasional.

    “Masyarakat Kanada memberi saya banyak hal untuk dipikirkan pada Senin malam. Saya akan meluangkan waktu yang diperlukan untuk merenungkan cara terbaik melayani masyarakat Kanada”, kata Trudeau dalam konferensi pers.

    Para pejabat di Partai Liberal mengatakan Trudeau akan mencari dukungan di parlemen berdasarkan kasus per kasus dan kemungkinan besar dari Partai Demokrat Baru yang cenderung condong ke kiri, dan harus bisa bertahan hidup selama dua tahun.

    Pemerintah minoritas di Kanada jarang ada yang bertahan lebih dari 2,5 tahun.

    Mengutip Reuters, Kamis 24 Oktober 2019, Trudeau tidak memiliki rencana untuk membentuk koalisi baik formal maupun informal dan lebih memilih menjangkau semua pimpinan partai dalam beberapa minggu ke depan.

    Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau meminta maaf karena memakai riasan wajah cokelat pada tahun 2001, kepada wartawan selama penerbangan untuk kampanye pemilihan pemimpin partai Liberal di Halifax, Nova Scotia, Kanada, 18 September 2019. [CBC via REUTERS]

    Pertama kali sejak pemilu diselenggarakan, Perdana Menteri Trudeau mengatakan dia akan mengumumkan susunan kabinet barunya pada 20 November 2019. Dia pun berjanji akan memangkas pajak bagi kalangan menengah sebagai prioritasnya.

    Janji lain yang diucapkan Trudeau, yakni mengatasi kekhawatiran stok minyak di Kanada, khususnya di provinsi Alberta dan Saskatchewan. Sejumlah kritik menuding aturan lingkungan baru yang lebih keras telah merusak industri energi negara itu.

    Sebelumnya pada tahun lalu, pemerintah Kanada membeli pipa minyak mentah Trans Mountain yang membentang dari Alberta hingga provinsi British Columbia di Pasifik. Trudeau berjanji akan mendorong perluasan sekalipun telah ditentang para pencinta lingkungan dan kelompok adat atas tindakannya ini.

    “Kami akan melanjutkan ekspansi pipa Trans Mountain”, kata Trudeau.

    Fitch Ratings, lembaga pemeringkat dunia, pada Rabu, 23 Oktober 2019 mengatakan kesepakatan yang terjalin antara Partai Liberal dan Partai Demokrata Baru akan meningkatkan resiko tekanan pembagian kekuasaan di Kanada yang bisa mengarah pada kebijakan fiscal pemerintah federal yang lebih ekspansif. Anggaran tahun depan akan menjadi sinyal utama apakah susunan parlemen baru akan mengarah pada tekanan pengeluaran yang lebih besar dan peningkatan defisit federal.

    KANIA SUKU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.