Kasus Pembunuhan Kekasih Jadi Pemicu Unjuk Rasa di Hong Kong

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Chang Tong Kai, warga Hong Kong menjadi tersangka pembunuh kekasihnya saat berlibur di Taiwan tahun lalu. Kasus Chang mendorong pembahasan RUU Ekstradisi karena tersangka tidak dapat dibawa ke Taiwan untuk diadili karena tidak ada perjanjian ekstradisi dengan Hong Kong.

    Chang Tong Kai, warga Hong Kong menjadi tersangka pembunuh kekasihnya saat berlibur di Taiwan tahun lalu. Kasus Chang mendorong pembahasan RUU Ekstradisi karena tersangka tidak dapat dibawa ke Taiwan untuk diadili karena tidak ada perjanjian ekstradisi dengan Hong Kong.

    TEMPO.CO, Jakarta - Unjuk rasa besar-besaran selama 5 bulan di Hong Kong ternyata dipicu oleh perkara kriminal pria pembunuh kekasih saat berlibur di Taiwan.

    Kejahatan yang dilakukan Chan Tong-kai, 20 tahun, memicu Beijing menggodok Rancangan Undang-Undang Ekstradisi ke Cina untuk setiap kasus kriminal yang terjadi di Hong Kong.

    Gagasan Beijing itu malah memicu ketegangan politik dan tuntutan warga Hong Kong menjadi negara merdeka.

    Chan pada hari Rabu, 23 Oktoer 2019 menyatakan permohonan maaf kepada warga Hong Kong setelah dibebaskan dari penjara atas perkara pencucian uang. 

    Dia mendekam selama 19 bulan di penjara di Hong Kong. Perkara ini terkait dengan pembunuhan yang dia lakukan terhadap kekasih di Taiwan pada Februari 2018. 

    "Saya bersedia atas tindakan impulsif saya dan hal yang saya lakukan salah untuk menyerahkan diri ke Taiwan untuk menjalani hukuman," kata Chan dalam permohonan maaf secara terbuka, sebagaimana dilaporkan South China Morning Post.

    "Saya harap hal ii dapat memberikan sedikit kelegaan kepada keluarganya dan (kekasihnya yang sudah tewas Poon Hiu-wing) dapat beristirahat dalam tenang," ujar Chan.

    Chan membunuh kekasihnya di dalam kamar hotel di Taiwan dalam pertengkaran hebat dipicu pengakuan kekasihnya sedang hamil. Pelakunya mantan kekasihnya. Wanita ini juga menunjukkan tayangan berhubungan seks dengan pria lain melalui video.

    Keduanya sudah bertengkar di bandara saat mengatur barang bawaan mereka untuk ditaruh ke koper pink yang baru dibeli. Chan menggunakan koper pink menyimpan jasad kekasihnya dan dibuang di satu tempat di pinggiran kota Taipei.

    Dia kemudian terbang ke Hong Kong untuk menghapus jejak kejahatannya. Orang tua korban merasa curiga dan melakukan pencarian anak mereka yang tak kunjung pulang.

    Polisi Taiwan menemukan jasad Poon dan memburu Chan. Namun, Taiwan dan Hong Kong tidak memiliki perjanjian ekstradisi, sehingga Chan tidak dapat dibawa ke Taiwan untuk dituntut.

    Jejak kejahatan Chan terungkap di Hong Kong setelah dia menggunakan kartu kredit kekasihnya untuk menarik uang untuk mbayar tiket pesawat dan tagihan kartu kredit miliknya.

    Hong Kong menjerat Chan dengan dakwaan kejahatan pencucian uang dan dijebloskan ke penjara. Setelah sepenuhnya menjalani hukuman, Chan bersiap menghadapi tuntutan hukum atas pembunuhan kekasihnya di Taiwan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.