Erdogan dan Putin Sepakat Usir Milisi Kurdi dari Zona Aman Suriah

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan dengan Presiden Turki Tayyip Erdogan selama konferensi pers setelah pembicaraan mereka di Sochi, Rusia 22 Oktober 2019. [Sputnik / Alexei Druzhinin / Kremlin via REUTERS]

    Presiden Rusia Vladimir Putin berjabat tangan dengan Presiden Turki Tayyip Erdogan selama konferensi pers setelah pembicaraan mereka di Sochi, Rusia 22 Oktober 2019. [Sputnik / Alexei Druzhinin / Kremlin via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin, sepakat untuk mengusir milisi Kurdi YPG dari perbatasan di timur laut Suriah. Kesepakatan Turki dan Rusia pada Selasa kemarin dianggap kemenangan keduanya, namun kekalahan bagi AS.

    Kesepakatan tersebut terjadi saat gencatan senjata yang ditengahi AS berakhir pada hari Selasa, menurut laporan Reuters, 23 Oktober 2019.

    Kesepakatan Selasa mendukung kembalinya pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad ke perbatasan bersama pasukan Rusia, menggantikan pasukan Amerika yang telah berpatroli di wilayah itu selama bertahun-tahun dengan bekas sekutu Kurdi mereka sebelumnya.

    Berdasarkan perjanjian antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Tayyip Erdogan, kedua negara mengatakan polisi militer Rusia dan penjaga perbatasan Suriah akan mulai memindahkan YPG 30 km dari perbatasan Turki pada hari Rabu.

    Enam hari kemudian, pasukan Rusia dan Turki bersama-sama akan mulai berpatroli di jalur sempit 10 km di "zona aman" yang telah lama dicari Ankara di Suriah timur laut.

    Setelah enam jam pembicaraan dengan Erdogan di resor Laut Hitam Sochi, Putin menyatakan kepuasannya pada keputusan yang disebutnya sebagai kesepakatan penting untuk menyelesaikan situasi yang cukup tegang yang telah berkembang di perbatasan Suriah-Turki.

    Kesepakatan yang ditengahi AS pekan lalu, yang secara teknis berakhir pada 19.00 GMT pada hari Selasa, dibatasi bagian tengah dari jalur perbatasan antara kota-kota Suriah di Tel Abyad dan Ras al Ain, di mana pasukan Turki memfokuskan serangan militer mereka.

    Di bawah kesepakatan dengan Moskow, panjang wilayah perbatasan tempat YPG akan mundur adalah lebih dari tiga kali ukuran wilayah yang dicakup oleh perjanjian AS-Turki, yang mencakup sebagian besar wilayah yang ingin dimasukkan oleh Turki.

    Iring-iringan kendaraan militer AS melewati wilayah Erbil, Irak, setelah menarik diri dari utara Suriah, Senin, 21 Oktober 2019. REUTERS/Azad Lashkari

    Wakil Presiden AS Mike Pence, yang membantu menegosiasikan gencatan senjata lima hari Kamis lalu, menerima surat dari komandan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi, mengatakan pasukan mereka telah ditarik berdasarkan perjanjian itu.

    "Hari ini Wakil Presiden menerima surat dari Jenderal Mazloum (Kobani) yang memberitahukan kepadanya bahwa semua pasukan SDF telah ditarik dari wilayah operasi yang relevan," kata juru bicara Pence Katie Waldman. "Wakil Presiden menyambut baik perkembangan ini dan melihatnya telah memenuhi ketentuan perjanjian 17 Oktober, terkait dengan penarikan YPG."

    Seorang pejabat dari Pasukan Demokratik Suriah, yang termasuk milisi YPG, kemudian mengatakan komandan SDF menegaskan bahwa SDF telah ditarik dari zona gencatan senjata.

    Penarikan AS dari Suriah utara telah dikritik oleh anggota parlemen AS, termasuk beberapa rekan Republik Trump, sebagai pengkhianatan sekutu Kurdi yang telah membantu Amerika Serikat melawan ISIS di Suriah.

    Turki mencari "zona aman" di sepanjang 440 km perbatasan dengan Suriah timur laut, tetapi serangannya difokuskan pada dua kota perbatasan di tengah jalur itu, Ras al Ain dan Tel Abyad.

    Pasukan Suriah dan Rusia telah memasuki dua kota perbatasan, Manbij dan Kobani, yang terletak di dalam "zona aman" yang direncanakan Turki tetapi di sebelah barat operasi militer Turki.

    Erdogan mengatakan dia bisa menerima kehadiran pasukan Suriah di daerah-daerah itu, selama YPG diusir keluar.

    Pejuang pemberontak yang didukung Turki saat di kota perbatasan Tel Abyad, Suriah, 14 Oktober 2019. Operasi militer Turki ke Suriah utara telah menyebabkan sekitar 500 orang tewas. REUTERS/Khalil Ashawi

    Rusia adalah sekutu dekat Assad. Turki telah mendukung pemberontak yang berusaha menggulingkan Assad selama perang saudara Suriah yang berlangsung lebih dari delapan tahun, tetapi telah membatalkan seruannya yang sekali-kali agar dia mundur.

    Ankara mengadakan kontak rahasia dengan Damaskus, sebagian melalui Rusia, untuk mencegah konflik langsung di timur laut Suriah, kata pejabat Turki, meskipun secara terbuka kedua pemerintah tetap bermusuhan.

    "Erdogan adalah seorang pencuri dan sekarang mencuri tanah kami," kata Assad selama kunjungan yang jarang ke garis depan terpisah di wilayah Idlib barat laut Suriah, benteng besar terakhir pemberontak yang didukung Turki.

    Sekitar 300.000 orang telah mengungsi akibat invasi Turki dan 120 warga sipil telah tewas, menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, sebuah pemantau perang yang berbasis di Inggris. Pada Ahad 259 milisi pasukan pimpinan Kurdi tewas, dan sementara ada 196 tewas dari pasukan pemberontak Suriah yang didukung Turki. Turki mengatakan 765 teroris tewas tetapi mengklaim tidak ada warga sipil yang tewas dalam serangannya ke Suriah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.