Kapal Pesiar Equanimity dari Kasus 1MDB Kembali Dijual

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal pesiar Equanimity dengan Jaksa Agung Malaysia, Tommy Thomas, di pojok kanan atas. Bernama via New Straits Times.

    Kapal pesiar Equanimity dengan Jaksa Agung Malaysia, Tommy Thomas, di pojok kanan atas. Bernama via New Straits Times.

    TEMPO.COKuala Lumpur –Kapal pesiar mewah yang tersangkut kasus korupsi puluhan triliun dalam skandal 1MDB bakal kembali ditawarkan untuk dijual.

    Kapal bernama Equanimity ini sekarang telah berganti nama menjadi Tranquility dimiliki oleh operator pariwisata Genting Malaysia Bhd, yang membelinya dari pemerintah Malaysia pada April 2019 seharga US$126 juta atau sekitar Rp1.8 triliun.

    “Aset kapal pesiar ini merupakan salah satu aset yang disita dari pengusaha buron Low Taek Jho dan rekannya terkait uang milik perusahaan investasi 1Malaysia Development Berhad seperti temuan para penyelidik,” begitu dilansir Reuters pada Ahad, 20 Oktober 2019.

    Kapal pesiar ini memiliki panjang sekitar 300 kaki atau sekitar seratus meter dengan desain interior berupa marmer, sebuah klub, kamar mandi ala Turki, kolam renang 20 meter persegi, dan sebuah helipad.

    Kapal pesiar ini muncul dan ditawarkan oleh broker Camper & Nicholsons. Namun, penawaran kapal ini tidak disertai harga.

    Kapal ini masih bisa disewa seharga 1.1 juta pound sterling. Menurut kabar media lokal, perusahaan Genting, Malaysia, menawarkan kapal pesiar itu seharga US$200 juta atau sekitar Rp2.8 triliun.

    Proses hukum di Malaysia sedang menginvestigasi dugaan penyelewengan dana sekitar 1MDB di enam negara terkait pencucian uang dan korupsi.

    Pejabat Departemen Kehakiman AS pernah menyatakan ada indikasi US$4.5 miliar atau sekitar Rp63 triliun dari  1MDB. Low Taek Jho atau Jho Low diduga menghabiskan dana itu untuk membeli kapal pesiar, pesawat jet, lukisan Picasso, perhiasan, dan properti.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.