Hari Pangan Sedunia, Paus Fransiskus Sesalkan Kesenjangan Pangan

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Paus Fransiskus saat memimpin Misa pada Kamis Putih di Basilika Santo Petrus di Vatikan, 18 April 2019. Tradisi Tri Suci merupakan tradisi Gereja Katolik untuk mengenang wafatnya Yesus. REUTERS/Remo Casilli

    Paus Fransiskus saat memimpin Misa pada Kamis Putih di Basilika Santo Petrus di Vatikan, 18 April 2019. Tradisi Tri Suci merupakan tradisi Gereja Katolik untuk mengenang wafatnya Yesus. REUTERS/Remo Casilli

    TEMPO.CO, Jakarta - Paus Fransiskus mengirim pesan kepada Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu, untuk memperingati Hari Pangan Sedunia 2019, dengan mengungkapkan keprihatinannya terhadap hubungan yang menyimpang antara makanan dan gizi.

    "Tindakan Kita Adalah Masa Depan Kita. Diet Sehat untuk Dunia #ZeroHunger. Meskipun ada upaya yang dilakukan dalam beberapa dekade terakhir, Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan belum diimplementasikan di banyak bagian dunia," pesan Paus Fransiskus dikutip dari Vaticannews, 21 Oktober 2019.

    Dalam pesan Hari Pangan Sedunia tahun ini, Paus menyayangkan bagaimana makanan yang terbuang atau dikonsumsi berlebihan. Dia mengutip fakta bahwa ketika 820 juta orang menderita kelaparan di dunia, ada hampir 700 juta kelebihan berat badan.

    Paus menyebutnya sebagai "realitas kejam, tidak adil dan paradoks" bahwa ada makanan untuk semua orang, tetapi tidak semua orang memiliki akses ke sana. Paus menyesalkan fakta bahwa makanan terbuang sia-sia, dibuang dan dikonsumsi berlebihan, atau digunakan untuk tujuan lain selain nutrisi.

    Gadis cilik yang mengalami malnutrisi ditimbang badannya di pusat perawatan malnutrisi di Sanaa, Yaman, 7 Oktober 2018. Potret Amal Hussain, gadis Yaman berusia 7 tahun yang meninggal karena kelaparan, menarik perhatian dunia. REUTERS/Khaled Abdullah

    Obesitas, yang merupakan faktor risiko untuk kondisi seperti diabetes, penyakit jantung dan kanker, mempengaruhi lebih dari 650 juta orang di seluruh dunia dan hampir tiga kali lipat sejak 1975, menurut WHO seperti dikutip dari ABC News.

    Realitas ini menuntut pertobatan dalam cara kita hidup dan bertindak, kata Paus. "Gangguan gizi hanya dapat diperangi oleh penanaman gaya hidup yang terinspirasi oleh rasa syukur atas hadiah yang telah kita terima dan adopsi semangat kesederhanaan, moderat, pantang, kontrol diri, dan solidaritas."

    Dengan mengadopsi gaya hidup yang lebih sederhana dan bijaksana, lanjut Paus Fransiskus, "kita tumbuh dalam solidaritas persaudaraan yang mencari kebaikan bersama dan menghindari individualisme dan egosentrisme yang hanya berfungsi untuk menghasilkan kelaparan dan ketidaksetaraan sosial."

    Paus Fransiskus mengakhiri pesannya untuk Hari Pangan Sedunia dengan menyatakan bahwa perang melawan kelaparan dan kekurangan gizi tidak akan berakhir, selama logika pasar berlaku dan keuntungan dicari dengan biaya berapapun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.