Serangan ke Suku Kurdi, Erdogan Menolak Seruan Gencatan Senjata

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Orang-orang berdiri di belakang sebuah truk ketika mereka melarikan diri dari kota Ras al Ain, Suriah 9 Oktober 2019. Turki melancarkan operasi militer terhadap pejuang Kurdi di timur laut Suriah pada hari Rabu hanya beberapa hari setelah pasukan AS mundur dari daerah itu, dengan serangan udara dan artileri mengenai posisi milisi YPG di sekitar kota perbatasan Ras al Ain. [REUTERS / Rodi Said]

    Orang-orang berdiri di belakang sebuah truk ketika mereka melarikan diri dari kota Ras al Ain, Suriah 9 Oktober 2019. Turki melancarkan operasi militer terhadap pejuang Kurdi di timur laut Suriah pada hari Rabu hanya beberapa hari setelah pasukan AS mundur dari daerah itu, dengan serangan udara dan artileri mengenai posisi milisi YPG di sekitar kota perbatasan Ras al Ain. [REUTERS / Rodi Said]

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Turki, Tayyip Erdogan, meyakinkan Turki tidak akan pernah mendeklarasikan gencatan senjata dalam serangannya ke wilayah utara Suriah. Turki juga tidak akan bernegosiasi dengan pasukan bersenjata Kurdi yang diperangi militer Turki di kawasan itu.

    "Mereka (Amerika Serikat) meminta agar dideklarasikan sebuah gencatan senjata, kami tidak akan pernah melakukannya. Mereka menekan kami untuk menghentikan operasi militer dan menjatuhkan sanksi. Namun tujuan kami jelas, kami tak takut apapun," kata Erdogan.

    Dikutip dari reuters.com, Rabu, 16 Oktober 2019, Turki terus menekan pasukan bersenjata suku Kurdi di Suriah atau yang disebut YPG yang bercokol di utara Suriah. Tekanan terus dilancarkan kendati Amerika Serikat telah mengancam akan menjatuhkan sanksi dan meminta langsung agar Erdogan menghentikan serangan ke sana. Sedangkan pasukan militer Suriah yang diduga dukung oleh Rusia telah merangsek ke kota Manbij di utara Suriah yang ditinggalkan pasukan militer Amerika Serikat.

    Invasi Turki ke Kurdi di Suriah bertujuan menghalau milisi bersenjata YPG, yang diduga merupakan sekutu utama Amerika Serikat dalam perang melawan kelompok teroris ISIS di sana.

    YPG juga dinilai oleh Ankara sebagai sebuah kelompok teroris yang berafiliasi dengan kelompok separatis suku Kurdi di Turki. Presiden Erdogan mengatakan perlawanan akan dilanjutkan hingga tujuan tercapai. Dia pun tidak takut dengan sanksi-sanksi.

    Erdogan mengatakan pada Selasa, 15 Oktober 2019, sebuah serangan meletup di Manbij, yang menewaskan seorang tentara Turki. Serangan itu diluncurkan oleh pemerintah Suriah dan Turki berusaha membuat aksi balasan.

    Sebelumnya pada awal pekan lalu Erdogan dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan pembicaraan pertelepon. Erdogan mengatakan Trump seharusnya mengirimkan delegasi ke Ankara untuk mendiskusikan tuntutan Amerika Serikat dan mencoba membuat sebuah kesepakatan. Gedung Putih mengatakan Wakil Presiden Mike Pence kemungkinan yang akan datang menemui Erdogan di Ankara pada Kamis, 17 Oktober 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.