Raja Salman Setuju AS Kirim 3 Ribu Pasukan Lindungi Arab Saudi

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud menandatangani dokumen selama rapat pengesahan anggaran 2019 di Riyadh, Arab Saudi 18 Desember 2018. [Bandar Algaloud / Courtesy of Saudi Royal Court / Handout via REUTERS]

    Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud menandatangani dokumen selama rapat pengesahan anggaran 2019 di Riyadh, Arab Saudi 18 Desember 2018. [Bandar Algaloud / Courtesy of Saudi Royal Court / Handout via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Raja Salman bin Abudl Aziz dan putra mahkota Mohammed bin Salman telah menyetujui penempatan sekitar 3 ribu pasukan AS dan perlengkapan militernya di Arab Saudi.

    Penempatan pasukan AS di Arab Saudi termasuk beberapa skuadron pasukan angkatan udara, disebabkan permusuhan yang memanas antara Arab Saudi dan Iran.

    Permusuhan itu memuncak ketika serangan drone dan rudal penjelajah menembus langit Arab Saudi hingga merusakkan dua fasilitas minyak raksasa Aramco pada September lalu.

    Setelah penyerangan itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan melindungi sekutunya itu dari serangan musuh.

    Trump pun mengatakan Arab Saudi sepakat untuk membayar biaya dari pengerahan pasukan dan peralatan militer AS ke negara Teluk itu.

    Menurut Pentagon, seperti dilaporkan Al Jazeera, 12 Oktober 2019, Menteri Pertahanan AS, Mark Esper telah menyetujui pengiriman ke Arab Saudi berupa lebih dari dua rudal Patriot, satu rudal balistik THAAD sistem pencegat, dua skuadron pesawat tempur dan satu sayap ekspedisi.

    Sejak Mei lalu, AS telah meningkatkan jumlah pasukan di Pusat Komando sekitar 14 ribu pasukan untuk mencakup wilayah Timur Tengah.

    AS, Arab Saudi dan sejumlah negara Eropa menuding Iran sebagai pelaku penyerangan terhadap 2 fasilitas minyak Arab Saudi. Namun, Iran berkukuh membantah tudingan itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.