Perampok di Jerman Baca Pledoi Sampai 5 Hari

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Michael Jauernik, 71 tahun, membacakan pledoi selama lima hari. Sumber: edition.cnn.com

    Michael Jauernik, 71 tahun, membacakan pledoi selama lima hari. Sumber: edition.cnn.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang perampok bank di Jerman menggunakan hak hukumnya dengan membacakan pledoi di persidangan. Yang menarik perhatian, dia menghabiskan waktu hingga lima hari untuk membaca pledoinya itu.

    Dikutip dari edition.cnn.com, Kamis 10 Oktober 2019, perampok bank itu bernama Michael Jauernik, 71 tahun dan persidangan terhadapnya dijalankan di pengadilan distrik Hamburg, Jerman. Dia divonis 12 tahun penjara karena merampok tiga bank, berusaha melakukan pembunuhan dan kekerasan dengan senjata.

    Di bawah undang-undang Jerman, seorang terdakwa diberikan kesempatan untuk menyampaikan kata-kata terakhir setelah pengadilan menjatuhkan putusan. Umumnya, para terdakwa menggunakan kesempatan ini untuk memperlihatkan kesedihan mereka atau bahkan tidak berkata apapun.      

    Jauernik, yang hadir ke persidangan menggunakan kacamata, menjabarkan panjang-lebar kalau dia merasa tim penyidik yang menyelidiki kasusnya tidak berkompeten. Dia bahkan mengklaim lebih tahu hukum ketimbang para pengacaranya. Sumber di pengadilan mengatakan ‘pidato’ Jauernik menghabiskan waktu sekitar lima hari.

    Ketika putusan dibacakan, Jauernik sering menginterupsi hakim.

    Sebelumnya Jauernik sudah mengakui serangkaian perampokan bank yang dilakukannya pada 1970-an dan 1980-an. Dia pun pernah memimpin kerusuhan selama lima hari di penjara Fuhlsbüttel, Hamburg pada 1990. Pengacara Jauernik, Johannes Rauwald, mengatakan pada media Jerman kliennya akan mengajukan banding atas hukum yang dijatuhkan padanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.