Hun Sen Ancam Kerahkan Militer Hadapi Sam Rainsy dan Pendukungnya

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen. SBS

    Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen. SBS

    TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Kamboja Hun Sen mengancam akan mengerahkan militer untuk melawan para pendukung pemimpin oposisi, Sam Rainsy yang berencana pulang pada 9 November 2019 setelah beberapa tahun menjadi eksil.

    "Siapa saja terlibat dalam kampanye bertujuan menghancurkan negara dan perdamaiann pada 9 November akan menjadi subjek untuk dihukum," kata Hun Sen saat menghadiri upacara lulusan satu sekolah swasta di Phnom Penh, ibukota Kamboja, seperti dilaporkan Radio Free Asia, 2 Oktober 2019.

    "Ini sebuah rancangan untuk melakukan kudeta, mengganti rezim! jutaan orang dan pasukan bersenjata sedang menunggu anda pada 9 November. Kepala anda tidak terbuat dari baja," kata Hun Sen ditujukan kepada Sam Rainsy.

    Selain mengerahkan militer, Hun Sen juga mengancam akan memotong jari para pendukung Rainsy, pemimpin Partai Penyelamat Nasional Kamboja atau CNRP yang diberangus lewat putusan pengadilan tertinggi tahun 2017 dan memenjarakan pemimpin partai oposisi tersebut.

    Menurut laporan Radio Free Asia, 2 Oktober 2019, Hun Sen mengancam akan memotong jari para pendukung yang menunjukkan tanda berupa 9 jari tangan terangkat sebagai simbol 9 November, tanggal Sam Rainsy pulang ke Kamboja.

    Kampanye 9 jari tangan diluncurkan partai oposisi CNRP untuk menyambut kepulangan Sam Rainsy dan para eksil lainnya.

    "Jangan prnah bergabung dengan kampanye sembilan jari. Jika anda berani melakukannya, maka salah satu jari tangan anda dipotong," ujar Hun Sen.

    Menurut analis politik, Meas Nee, retorika dan tindakan keras Hun Sen terhadap para aktivis CNRP, beberapa di antaranya sudah pergi menjadi eksil didasari keyakinan bahwa Sam Rainsy akan benar pulang pada 9 November mendatang.

    Menurut seorang pemuda yang memimpin CNRP di Jepang kepada RFA, tindakan keras dan ancaman Hun Sen akan membuat warga Kamboja yang tinggal bebas di sejumlah negara akan menjadi lebih kuat keinginan untuk pulang ke Kamboja bersama Sam Rainsy. Kami tahu Hun Sen sangat takut dengan kepulangan ini," kata politisi muda CNRP.

    Sam Rainsy sejak Agustus lalu telah menyebut tanggal 9 November 2019 untuk kembali ke negaranya. Tanggal itu merupakan hari peringatan kemerdekaan Kamboja dari Prancis. Dia juga menyerukan kepada para pekerja migran untuk kembali pulang bersama-sama ke Kamboja dan membangun kembali demokrasi. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.