Sekolah di Inggris Minta Orang Tua Murid Bayari Biskuit Guru

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak bersekolah. shutterstock.com

    Ilustrasi anak bersekolah. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang kepala sekolah di Egham, Surrey, Inggris, meminta kepada orang tua murid untuk memberi guru hadiah untuk mendorong peningkatan kinerja.

    Surat dari kepala sekolah Thorpe Lea Primary School ini menimbulka kemarahan orang tua murid dan diunggah di jejaring sosial.

    “Apa???? Saya terkejut melihat ini,” kata Julie Hare, salah satu orang tua murid, seperti dilansir Mirror pada Ahad, 6 Oktober 2019.

    Hare mengatakan kesejahteraan guru memang perlu diprioritaskan. Tapi tidak dengan meminta orang tua murid untuk menyediakan biskuit di ruang guru.

    “Seharusnya ini tentang memastikan beban kerja yang teratur dan staf punya waktu untuk berefleksi,” kata dia.

    Surat kepala sekolah tadi memang menyebut ada beberapa fasilitas untuk guru yang disediakan sekolah dan telah dihapus karena minimnya biaya. “Itu sebabnya tim kesejahteraan menggalang dana untuk sejumlah kegiatan,” begitu bunyi surat itu.

    Selain biskuit, kepala sekolah juga menyebut ada voucher untuk guru, telur paskah, dan tiket diskon untuk berbagai kegiatan.

    Seorang pengguna Twitter dengan akun @Thatch_Teach mengatakan,”Tidak, saya tidak mau biskuit. Saya mau waktu terkait pekerjaan saya. Saya ingin punya waktu luang untuk membuat rencana dan memberi nilai secara efektif. Saya juga butuh buku teks,” kata dia.

    Orang tua murid lainnya berkomentar di Daily Telegraph. “Sebagai orang tua, saya merasa kita memberi contoh buruk kepada siswa bahwa mereka perlu mendanai kesejahteraan guru dengan biskuit dan telur Paskah.”

    Menurut Geoff Barton dari asosiasi sekolah, meningkatkan kesejahteraan guru akan meningkatkan manfaat bagi murid.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?