3 Fakta Serangan Senjata Tajam di Markas Besar Polisi Prancis

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi berjaga di sekitar mabes polisi Prancis pada Kamis, 3 Oktober 2019. Standard

    Polisi berjaga di sekitar mabes polisi Prancis pada Kamis, 3 Oktober 2019. Standard

    TEMPO.COParis – Serangan senjata tajam yang menyasar polisi serta petugas administrasi di markas besar polisi di Paris, Prancis, dilakukan oleh seorang ahli komputer berusia 45 tahun bernama Mickel Harpon.

    Harpon merupakan salah satu pegawai yang memiliki akses tingkat tinggi terhadap informasi keamanan termasuk mengenai kelompok jihad yang informasinya dikumpulkan polisi.

    Berikut ini sejumlah fakta yang dikumpulkan polisi:

    1. Korban

    Harpon menyerang seorang petugas polisi berpangkat mayor berusia 50 tahun. Dia lalu menyerang seorang penjaga berusia 38 tahun yang bekerja di kantor yang sama dengan Harpon dan sedang bersantap siang.

    Pelaku lalu masuk ke ruangan lain dan menyerang seorang petugas administrasi berusia 37 tahun hingga tewas.

    Harpon sempat berusaha masuk ke ruangan lain tapi gagal karena terkunci. Dia lalu turun ke lapangan dan menyerang seorang polisi perempuan berusia 39 tahun, yang kemudian tewas akibat lukanya.

    Pelaku sempat menyerang dan melukai dua orang lainnya sebelum ditembak oleh seorang petugas polisi baru dengan dua kali tembakan. Pelaku melakukan aksi menggunakan pisau keramik. Media Standard melansir nama korban sebagai General Damien E, 50 tahun, Brice L, 38 tahun, dan Anthony L, 38 tahun, serta Aurelia T, 39 tahun.

    1. Kirim pesan

    Sesaat sebelum melakukan serangan, Harpon sempat berkirim pesan dengan istrinya sebanyak 33 kali. Dia membicarakan isu agama dan mengakhiri pesannya dengan kata-kata Tuhan Maha Besar. Dia juga meminta istrinya mengikuti ajaran nabi dan mengkaji kitab suci.

    Polisi menanyai istri Harpon pada Sabtu namun tidak menahannya.

    Harpon juga diketahui mengganti pakaian ala barat yang biasa dikenakan saat ke masjid dengan pakaian tradisional. Dia juga berharap tidak berinteraksi dengan perempuan seperti dijelaskan jaksa.

    1. Suara

    Istri dari pelaku mengatakan suaminya mengaku mendengar suara-suara pada malam sebelum melakukan serangan senjata tajam.

    “Istrinya mengatakan suaminya terbangun tiba-tiba pada malam sebelum hari kejadian dan mengatakan mendengar suara-suara,” kata sumber Standard di polisi.

    Pasangan suami istri ini terdaftar di Prancis sebagai tuna rungu dan memiliki dua orang anak berusia sembilan dan tiga tahun. Ilham, istri pelaku, berkomunikasi dengan polisi menggunakan bahasa isyarat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.