Demonstran Hong Kong Tolak Larangan Masker

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja kantor anti-pemerintah mengenakan topeng menghadiri protes waktu makan siang, di Central, di Hong Kong, Cina, 4 Oktober 2019. Demonstran anti-pemerintah yang bertopeng disebut menodai perayaan Hari Nasional China pada Selasa kemarin, dengan merusak fasilitas umum di seluruh Hong Kong. REUTERS/Tyrone Siu

    Pekerja kantor anti-pemerintah mengenakan topeng menghadiri protes waktu makan siang, di Central, di Hong Kong, Cina, 4 Oktober 2019. Demonstran anti-pemerintah yang bertopeng disebut menodai perayaan Hari Nasional China pada Selasa kemarin, dengan merusak fasilitas umum di seluruh Hong Kong. REUTERS/Tyrone Siu

    TEMPO.COHong Kong – Demonstran Hong Kong melakukan pawai menolak penerapan Undang-Undang Darurat yang melarang mereka mengenakan masker atau penutup wajah saat melakukan protes di jalan pada Sabtu, 5 Oktober 2019.

    Ribuan warga turun di sejumlah lokasi di Hong Kong dan menggelar unjuk rasa tanpa izin dari polisi. Mereka juga merencanakan sejumlah demonstrasi selama akhir pekan ini.

    Mayoritas demonstran turun ke jalan pada siang dan malam dengan mengenakan berbagai penutup wajah. Mereka tidak menggunakan helm atau peralatan pelapis tubuh, yang kerap digunakan sejumlah pemrotes yang radikal.

    Situasi terasa sunyi dan lengang karena banyak toko dan pusat perbelanjaan tutup setelah terjadi kerusuhan pada demonstrasi Jumat malam.

    “Undang-undang pelarangan penggunaan masker wajah itu langkah pertama. Jika kami tidak melawannya, maka tahun 2047 bakal segera tiba,” kata Hosun Lee, salah satu warga yang berdemonstrasi, merujuk pada tahun Hong Kong menjadi terintegrasi penuh ke sistem otoriter Cina, seperti dilansir Channel News Asia pada Sabtu, 5 Oktober 2019.

    Pasca penyerahan Hong Kong ke Cina pada 1997 oleh Inggris, ada kesepakatan satu negara dua sistem. Ini artinya Hong Kong menganut sistem demokrasi dan Cina menerapkan sistem komunis.

    Menurut demonstran lainnya, Sue, 22 tahun, demonstrasi kemarin merupakan ekspresi warga.

    “Kami merasa harus turun ke jalan untuk membela hak dasar kami memakai masker,” kata dia, yang mengenakan penutup wajah hitam dan kacamata gelap. “Pemerintah Hong Kong perlu belajar mereka tidak bisa menekan warga seperti ini.”

    Di distrik Tsim Sha Tsui, yang terletak di dekat pelabuhan, seorang demonstran mengenakan pakaian lucu berbentuk pisang berwarna kuning. Tulisan di kostum itu adalah ‘berontak’.

    Namun, di kawasan Sheung Shui, yang terletak di dekat perbatasan dengan Cina, sekelompok demonstran menyerang toko yang dimiliki oleh warga Cina atau dianggap mendukung Beijing. Mereka memecahkan kaca jendela toko.

    Sekelompok petugas terlihat menangkap seorang warga yang mengenakan penutup wajah dan membuatnya tertelungkup di jalan. Para petugas juga terlihat mengenakan penutup wajah dan tanpa nama di pakaiannya.

    Demonstrasi di Hong Kong, seperti dilansir Reuters, berlangsung besar-besaran sejak Juni 2019 untuk memprotes legislasi ekstradisi. Meski legislasi ini telah ditarik dari parlemen, mereka terus berdemonstrasi menuntut penerapan sistem demokrasi agar bisa memilih sendiri pemimpinnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.