Temukan 17 Anak Hasil Donor Sperma, Dokter Gugat Kampus Rp 74 M

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi sperma. Shutterstock

    Ilustrasi sperma. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang dokter menggugat Oregon Health & Science University atau OHSU sebesar US$ 5,25 juta atau setara dengan Rp 74 miliar karena pelanggaran kesepakatan donor sperma miliknya sehingga dia memiliki anak biologis sedikitnya 17 orang.

    Dokter bernama Bryce Cleary dalam berkas gugatannya yang dilaporkan CNN, 3 Oktober 2019 berawal ketika dia sebagai mahasiswa kedokteran di universitas itu diminta mendonorkan spermanya untuk riset tentang kesuburan tahun 1989.

    Universitas tersebut menjanjikan hanya 5 bayi yang akan dilahirkan dari donor sperma. OHSU menjanjikan sperma itu hanya diberikan kepada wanita yang tinggal di Pantai Timur.

    Ternyata belakangan terungkap bahwa bayi yang dilahirkan dari donor sperma miliknya berjumlah sedikitnya 17 orang dan mereka lahir di Oregon. Beberapa anak bahkan bersekolah di sekolah yang sama, menjalankan ibadah di gereja yang sama dan melakukan kegiatan sosial tanpa mengetahui bahwa mereka sesungguhnya bersaudara kandung.

    Temuan ini membuat Clearly tertekan secara mental.

    "Saya ingin menolong orang-orang yang bertarung dengan kemandulan, dan saya percaya OHSU akan bertanggung jawab dan menghormati janjinya," kata Cleary kepada para jurnalis.

    Cleary sudah menikah dan punya 3 anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang diadopsi.

    Dia dikejutkan satu hari pada Maret 2018 ketika dua dari 17 anak-anak itu menghubunginya untuk mencari ayah biologis mereka. Mereka menggunakan situs Ancestry.com dan informasi khusus dan substansi dari klinik kesuburan untuk menemukan jati diri Cleary dan saudara-saudara mereka lainnya.

    Cleary kemudian mengirimkan DNA miliknya ke Ancestry.com dan dari situ ditemukan bahwa dia memiliki sedikitnya 17 anak dari donasi sperma yang dilakukan 30 tahun lalu.

    "OHSU memperlakukan setiap dugaan pelanggaran dengan gravitasi yang pantas diterima," kata Tamara Hargens-Bradley, juru bicara OHSU menanggapi gugatan hukum Cleary atas pelanggaran janji terkait dengan donor sperma miliknya ke OHSU.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.