Greta Thunberg Adukan 5 Negara karena Gagal Cegah Perubahan Iklim

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis remaja, Greta Thunberg berbicara di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) PBB tentang Aksi Iklim di markas besar PBB, New York City, AS, Senin, 23 September 2019. Thunberg berbicara langsung dengan lusinan kepala negara dan pemerintahan, para pemimpin bisnis, dan perwakilan senior dari masyarakat sipil dari seluruh dunia.  REUTERS/Carlo Allegri

    Aktivis remaja, Greta Thunberg berbicara di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) PBB tentang Aksi Iklim di markas besar PBB, New York City, AS, Senin, 23 September 2019. Thunberg berbicara langsung dengan lusinan kepala negara dan pemerintahan, para pemimpin bisnis, dan perwakilan senior dari masyarakat sipil dari seluruh dunia. REUTERS/Carlo Allegri

    TEMPO.CO, Jakarta - Aktivis lingkungan Swedia, Greta Thunberg, bersama 15 remaja lain dari seluruh dunia mengajukan aduan resmi ke Komite PBB untuk Hak-hak Anak pada Senin.

    Para aktivis menuntut agar organisasi dan pemerintah mengambil tindakan segera untuk menyelamatkan lingkungan, kata UNICEF.

    Dikutip dari Sputnik, 24 September 2019, pengaduan itu menargetkan Jerman, Prancis, Turki, Argentina, dan Brasil, yang menurut Thunberg, tidak melakukan cukup banyak untuk menghentikan pemanasan global.

    "Perubahan perlu terjadi sekarang jika kita ingin menghindari konsekuensi terburuk. Krisis iklim bukan hanya karena cuaca. Itu juga berarti, kekurangan makanan dan kekurangan air, tempat-tempat yang tidak hidup dan pengungsi karenanya. Ini menakutkan," papar Thunberg mengatakan pada konferensi pers setelah pidatonya di depan PBB.

    Keluhan itu diajukan beberapa saat setelah Thunberg menyampaikan teguran keras kepada para pemimpin dunia di KTT Aksi Iklim PBB.

    "Kalian telah mencuri mimpiku dan masa kecilku dengan kata-katamu yang koson. Namun, aku salah satu yang beruntung," kata Thunberg pada Senin, dikutip dari CNN. "Orang-orang menderita, orang-orang sekarat."

    Aktivis remaja, Greta Thunberg (kanan) menjadi pembicara dalam KTT PBB tentang Aksi Iklim di markas besar PBB, New York City, AS, Senin, 23 September 2019. Remaja yang berasal dari Swedia ini tidak henti-hentinya menyampaikan kritiknya kepada para pemimpin dunia. REUTERS/Carlo Allegri

    Petisi itu menyebutkan lima negara: Jerman, Prancis, Brasil, Argentina, dan Turki, yang menurut mereka gagal menegakkan kewajiban mereka berdasarkan Konvensi Hak Anak, perjanjian hak asasi manusia berusia 30 tahun yang paling secara luas diratifikasi dalam sejarah.

    Aduan tersebut berfokus pada apa yang disebut protokol opsional, suatu mekanisme yang memungkinkan anak-anak atau orang dewasa atas nama mereka untuk mengajukan banding langsung ke PBB untuk mengajukan keluhan kepada Komite Hak-hak Anak jika mereka merasa hak-hak mereka ditolak.

    "Tiga puluh tahun yang lalu, para pemimpin dunia membuat komitmen bersejarah kepada anak-anak di dunia dengan mengadopsi Konvensi Hak-Hak Anak. Hari ini, anak-anak di dunia memegang tanggung jawab dunia atas komitmen itu. Kami sepenuhnya mendukung anak-anak yang menggunakan hak-hak mereka," kata Wakil Direktur Eksekutif UNICEF Charlotte Petri Gornitzka.

    Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa aktivis muda ini memiliki masa depan yang cerah dalam menanggapi pidatonya yang kuat di Majelis Umum PBB ke-74.

    "Dia tampak seperti gadis muda yang sangat bahagia menantikan masa depan yang cerah dan indah. Sangat menyenangkan untuk dilihat!" Trump menulis di Twitter.

    Pekan lalu, lebih dari empat juta orang di 161 negara ambil bagian dalam Global Climate Strike di seluruh dunia menjelang KTT Aksi Iklim PBB 2019, yang terinspirasi oleh Greta Thunberg.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.