3 Hal Mengenai Telepon Trump ke Presiden Ukraina

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Wakil Presiden Joe Biden memberi hormat ketika ia berdiri bersama Wali Kota South Bend Pete Buttigieg, Senator Bernie Sanders, Senator Elizabeth Warren dan Senator Kamala Harris ketika mereka berpartisipasi dalam debat Demokrat untuk calon presiden AS tahun 2020 [Mike Blake / Reuters]

    Mantan Wakil Presiden Joe Biden memberi hormat ketika ia berdiri bersama Wali Kota South Bend Pete Buttigieg, Senator Bernie Sanders, Senator Elizabeth Warren dan Senator Kamala Harris ketika mereka berpartisipasi dalam debat Demokrat untuk calon presiden AS tahun 2020 [Mike Blake / Reuters]

    TEMPO.COWashington – Rivalitas menjelang pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 2020 menjadi semakin panas dengan munculnya konflik antara Presiden Donald Trump dan bekas Wakil Presiden Joe Biden, yang merupakan wakil dari Presiden Barack Obama.

    Trump dikabarkan menelepon Presiden Ukraina dan memintanya menggelar investigasi atas Biden mengenai masalah hukum yang menimpa salah seorang putra Biden di Ukraina.

    Berikut ini tiga hal penting yang perlu diketahui soal ini seperti dilansir Vox:

    1. Trump Mengakui

    Presiden Trump mengakui pada Ahad, 22 September 2019 bahwa dia menelpon Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, pada 25 Juli 2019. Dia menyebut telepon itu sebagai hal yang sempurna.

    Media Wall Street menyebut Trump mencoba menelpon delapan kali untuk menekan Presiden Ukraina menginvestigasi putra Biden, yaitu Hunter dan bisnisnya, yang sedang terlibat kasus hukum.

    Trump membantah soal permintaan investigasi ini. Kepada media, Trump mengatakan bahwa pembicaraannya dengan Presiden Ukraina,”Terutama mengenai fakta kita tidak ingin orang seperti Wakil Presiden Joe Biden dan putranya melakukan korupsi yang sudah ada di Ukraina.”

    Trump juga menegaskan bahwa dia punya hak untuk membicarakan soal Biden karena,”Kita tidak ingin negara yang mendapat bantuan luar negeri besar mengkorupsi sistem kita.”

    1. Bantuan Keuangan

    Pemerintahan Trump menjanjikan bantuan senilai US$250 juta atau sekitar Rp3.5 triliun pada September ini setelah sempat tertunda. “Kritik Presiden Trump merasa khawatir dia sengaja menahan dana bantuan itu untuk meyakinkan mitranya dari Ukraina agar menginvestigasi Biden,” begitu dilansir Vox.

    1. Tuntutan Biden

    Biden telah meminta agar transkrip pembicaraan Trump dan Presiden Ukraina dirilis ke publik. “Ini menunjukkan Presiden Trump tidak punya batasan apapun dalam menyalahgunakan kekuasaan dan merugikan negara,” kata Biden.

    Soal ini, Trump mengatakan bersedia merilis isi pembicaraannya itu. “Itu baik-baik saja. Saya bisa memberikannya kepada sumber terpercaya. Mereka bisa melihatnya,” kata dia. “Saya mengatakan hal sangat bagus. Setiap orang akan menilainya 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.